Ekonomi Kepri melambat dari sisi administrasi pemerintahan.
Industri pengolahan masih jadi andalan untuk menggerakkan perekonomian Provinsi Kepri.

Keprisatu.com – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Triwulan III mengalami kontraksi atau minus 0,39 persen dibanding Triwulan II 2021. Andil terbesar yang membuat pelambatan ekonomi Kepri dari sisi produksi justru terjadi pada kategori administrasi pemerintahan.

Hal ini terungkap dari laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri yang dikutip Keprisatu.com, Rabu (17/11/2021). BPS menjabarkan pelambatan selain karena administrasi pemerintahan, juga karena andil dari kategori pertahanan dan jaminan sosial wajib dengan kontraksi sebesar 0,68 persen.

Andil pelambatan tersebut kemudian diikuti kategori transportasi dan pergudangan dengan andil kotraksi sebesar 0,33 persen. Sementara itu, dari sisi pengeluaran komponen pengeluaran konsumsi pemerintah memberikan andil kontraksi terbesar yaitu 1,50 persen; diikuti pengeluaran konsumsi rumah tangga dengan andil kontraksi sebesar 1,42 persen.

Akibat pelambatan dari triwulan II 2021 ke triwulan III 2021, membuat pertumbuhan ekonomi Kepri belum bisa bersaing secara nasional. Kepri berada di urutan ke-30 dari 34 provinsi di Indonesia.

Masih Disumbang Industri Pengolahan dan Konstruksi

Sebelumnya BPS juga melaporkan perekonomian Kepri pada triwulan III 2021 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp67,90 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp44,40 triliun.

Sehingga ekonomi Kepri pada triwulan III 2021 dibanding periode yang sama tahun lalu tumbuh sebesar 2,97 persen. Pertumbuhan ini masih disumbang oleh industri pengolahan dan konstruksi.

Sebagaimana laporan BPS, dari sisi lapangan usaha pertumbuhan triwulan ini didorong oleh kategori industri pengolahan yang memberikan andil pertumbuhan sebesar 1,59 persen dan kategori konstruksi dengan andil pertumbuhan sebesar 1,57 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen yang memberikan andil pertumbuhan terbesar adalah PMTB sebesar 1,73 persen dan PK-LNPRT dengan andil sebesar 0,02 persen. (KS04)