Asep, Pemilik Cahaya Betta Farm dengan ikan-ikan cupang budidaya di rumahnya, Bida Kharisma Batam Centre, Kota Batam, Minggu (16/8/2020).

Keprisatu.com – Hujan belum sepenuhnya reda usai mengguyur Kota Batam, Minggu, 16 Agustus 2020, pagi. Tak banyak aktivitas dilakukan warga di luar rumah.

Namun, puluhan warga di Perumahan Bida Kharisma, RT 02/ RW 37 Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, justru antusias gotong royong membersihkan lingkungan. Ranting-ranting pohon yang menjulur ke jalan atau gang pemukiman dirapikan. Sampah-sampah yang menyumbat saluran parit dibersihkan.

“Kegiatan ini selain dalam rangka menyambut ulang tahun ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, juga untuk mempersiapkan pameran dan bazar ikan cupang,” ujar Asep Carno, seorang warga Bida Kharisma.

Digagas Asep, pameran dan bazar ikan cupang itu akan digelar pada Minggu, 23 Agustus mendatang. Ide kegiatan berawal dari maraknya warga sekitar yang gemar memelihara ikan cupang.

Apalagi saat pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) mewabah. Banyak warga yang akhirnya beraktivitas dari rumah. Untuk mengusir jenuh, memelihara ikan cupang menjadi salah satu pilihan. Pameran dan bazar ini terbuka dan bisa diikuti siapa saja, tak harus warga Bida Kharisma.

“Melalui pameran dan bazar inilah saya berharap ekonomi warga ikut terangkat,” ujar Asep.

Berbeda dengan ikan hias lain, cupang termasuk jenis ikan yang mudah pemeliharaannya. Ikan ini bisa awet hidup tanpa oksigen bantuan dari pompa gelembung udara yang biasa dipasang di akuarium. Penempatannya juga hemat ruang, cukup dalam toples plastik, toples kaca, atau akuarium mini.

“Makanannya jentik nyamuk atau kutu air dan cacing sutra. Mudah dicari dan banyak dijual di toko ikan hias atau toko burung,” kata Asep.

Berawal dari hobi, kini Pemilik Cahaya Betta Farm ini menjadikan ikan cupang sebagai sumber pendapatan ekonomi. Beberapa jenis ikan cupang dibudidaya, mulai dari giant, plakat, halfmoon, bluerim, dan lainnya.

Dipasarkan Lewat Online

Pandemi Covid-19 dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah di berbagai daerah telah mengubah perilaku konsumen berbelanja. Berbagai aktivitas dilakukan dari rumah, termasuk dalam berburu dan membeli ikan cupang. Konsumen tidak lagi mendatangi penjual, karena melakukan jaga jarak fisik. Semua dilakukan secara online, seperti melalui Facebook, Instagram, dan e-commerce.

Asep mengungkapkan, pemasaran ikan cupang secara online meningkat pesat sejak pandemi Covid-19. Pembelinya tidak hanya warga lokal Batam, tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, di antara pembeli berasal dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

“Mereka ada komunitas penggemar ikan cupang di Malaysia atau Singapura. Jadi begitu tahu ada ikan cupang yang bagus, mereka langsung pesan,” katanya.

Menurut Asep, ada dua cara yang biasa dilakukan penjual untuk menawarkan ikan cupang secara online, yakni melalui lelang atau langsung mematok harga ikan. Dalam sistem lelang, ikan-ikan ini dibuka dari harga terendah. Penawar dengan harga tertinggi berhak atas ikan yang ditawarkan tersebut.

Harga ikan cupang yang dipasarkan bervariasi. Ada yang dijual per ekor mulai dari Rp15 ribu. Ada juga yang dijual sepaket atau sepasang, terdiri dari dua ekor-jantan dan betina- dengan harga mulai Rp50 ribu.

“Di kalangan komunitas harganya bisa lebih tinggi. Per ekornya bisa sampai Rp1 juta. Pembelinya dari Bali,” kata Asep sambil menunjukkan proses lelang di salah satu akun Facebook yang beranggotakan para penggemar ikan cupang.

Jika dalam penawaran online tersebut sudah cocok harga, barulah ikan dikemas untuk dikirim ke alamat tujuan. Meski dikemas dalam plastik tertutup tanpa oksigen, ikan cupang bisa tahan dan tidak mudah mati.

Asep punya teknik khusus agar ikan lebih tahan hidup saat proses pengiriman, Sehari sebelum pengiriman, ikan-ikan itu tidak dikasih makanan atau puasa.

“Tujuannya agar saat dikirim, ikan tidak membuang kotoran. Karena jika kotorannya termakan, ikan cupang lebih cepat mati,” katanya.

Dikirim Pakai TIKI

Urusan memilih jasa pengiriman, Asep tidak mau sembarangan. Salah memilih, dampaknya tidak hanya hilangnya pendapatan, tapi juga menurunnya tingkat kepercayaan pelanggan.

Apalagi menyangkut pengiriman ikan yang daya hidupnya terbatas tanpa oksigen. Lambat sampai di tempat tujuan, ikan bisa mati.

“Konsumen tak akan mau membeli ikan mati. Jika tidak puas, mereka tak mungkin pesan ikan lagi di kemudian hari,” katanya.

Mempertimbangkan risiko tersebut, Asep akhirnya lebih memilih menggunakan jasa pengiriman TIKI. Menurutnya, menggunakan TIKI lebih menjamin barang sampai di alamat tujuan tepat waktu. Layanan pengiriman juga mudah, tidak ribet, dan barang bisa dijemput langsung ke rumah.

“Teman-teman komunitas juga banyak yang menyarankan untuk mengirim pakai TIKI, lebih cepat sampai. Begitu juga pemesan, juga sering minta agar pengiriman dilakukan melalui TIKI,” kata Asep.

Asep, Pemilik Cahaya Betta Farm memesan kebutuhan budidaya ikan yang dikirim menggunakan jasa ekspedisi TIKI.

Tidak hanya melakukan pengiriman, Asep juga sering memesan kebutuhan budidaya ikan dari luar Batam. Pakan ternak atau pakan ikan, misalnya, dipesan Asep dari Ciamis, Jawa Barat. Dikirimnya juga pakai TIKI.

“Saya biasa pesan pakan ikan dari luar lewat online (e-commerce), dapat harga lebih murah. Mereka kirim pakai TIKI, sekitar lima hari sudah sampai,” katanya.

Ahmad Ferwito, Operational & Network Director TIKI mengatakan, perubahan pola kebiasaan pelanggan dalam berinteraksi dan melakukan transaksi, membuat industri jasa kurir juga berbenah. Salah satunya dilakukan PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI), perusahaan jasa pengiriman terkemuka di Indonesia, dengan menyediakan produk dan layanan berbasis teknologi.

“TIKI melakukan strategi TIKI Go Digital dengan menyediakan produk dan layanan berbasis teknologi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan akses bagi konsumen dengan memperbanyak kanal bagi konsumen untuk melakukan pengiriman tanpa perlu terkendala waktu,” ujar Ahmad dalam keterangan tertulisnya kepada keprisatu.com, Jumat (3/7/2020).

Menurut Ahmad, selama tiga tahun terakhir, TIKI telah banyak berbenah untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi di era digital. TIKI memberikan empat prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam jasa pengiriman. Pertama, harga yang kompetitif dan terjangkau. Kedua, kiriman diterima tepat waktu dan dalam kondisi baik.

Ketiga, memperbanyak pilihan drop off untuk konsumen termasuk layanan barang dijemput di lokasi konsumen tanpa minimum jumlah barang dan tidak dikenakan biaya. Keempat, sistem pelacakan kiriman yang real-time sehingga konsumen bisa mengetahui keberadaan barangnya.

“TIKI juga memiliki smart control tower yang dapat menganalisa data operasional secara real-time untuk membantu manajemen melakukan pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran,” ujarnya. (zaki setiawan)