drone pengintai china
Ilustrasi

Keprisatu.com – Drone pengintai China tertangkap di perairan Indonesia saat Natal, 25 Desember 2020. Tak hanya satu, bahkan ada tiga drone yang tertangkap di lautan Indonesia saat itu. Salah satunya di Selat Melaka.

Namun temuan tersebut justru media Australia, News.com, yang melaporkannya. Drone pengintai China ini berbentuk seperti tabung, namun memiliki sayap. Perangkat drone ini penuh dengan banyak sensor serta transmitter jarak jauh yang bertugas untuk mengirimkan hasil temuan ke markas. Demikian CNBC mengutipnya, Jumat (1/1/2021).

kemudian media tersebut melaporkan jika salah satu drone terdapat di Selat Malaka. Ini adalah jalur perairan antara Indonesia dan Singapura, juga merupakan jalur tersibuk pengiriman dan perdagangan internasional.

Sementara itu, dua lainnya ketemu di dekat Selat Sunda dan wilayah Lombok. Seorang nelayan menemukan salah satu drone yang memiliki panjang 225 cm. Nelayan tersebut melaporkannya ke polisi dan menghubungi pihak TNI AL.

News.com menyatakan jika ketiganya merupakan jalur penting yang menghubungkan Laut China Selatan (LCS) ke Samudera Hindia. Jika ada yang bisa mengontrol ‘jalan’ itu maka akan membuat ekonomi di seluruh negara bisa bertekuk lutut. Jalur tersebut juga merupakan wilayah pengiriman penting bahan bakar olahan Singapura menuju Australia.

BACA JUGA: TNI AL Kerahkan 9 Kapal Perang di Natuna

Analis perang kapal selam, HI Sutton menyebutkan kehadiran drone tersebut bisa jadi kecurigaan China untuk melakukan pengintaian. Ataupun melakukan rencana untuk angkatan laut lainnya.

Salah satunya adalah data hidrografis yang sangat penting untuk peperangan kapal selam. Bisa sebagai cara kapal selam tetap tersembunyi maupun membantu menemukan musuh. Selain itu juga bisa untuk mengidentifikasi lokasi ranjau di lautan, yang bertugas menyerang kapal di bagian atasnya.

“Rute ini, Selat Sunda dan Selat Lombok mungkin sangat penting saat perang. Info intelijen yang drone kumpulkan, kemungkinan berguna jika kapal selam ingin menggunakan Selat tersebut,” kata Sutton.

Sementara itu, China dan Australia belakangan memanas.  Australia menyerukan untuk melakukan penyelidikan internasional terhadap virus corona yang berasal dari China, hingga akhirnya menjadi pandemi.

Akibatnya hubungan keduanya retak, meski merupakan mitra strategis. China merupakan pasar ekspor terbesar Australia, pada 2018-2019 saja ekspor Australia ke China mencapai US$ 116,79 miliar atau setara dengan 32,6 persen dari total ekspor negara tersebut. (ks04)

editor: arham