Batam, Keprisatu.om – Di tengah dominasi nama-nama besar di arena jujitsu, muncul sosok baru yang mulai mencuri perhatian. Namanya belum lama dikenal, namun penampilannya di atas matras langsung mengundang decak kagum. Serda Adi Guna Iskandar datang tanpa banyak sorotan, tetapi pulang dengan sebuah pembuktian yang tak terbantahkan.
Prajurit muda Batalyon Infanteri TP 849/Beladau Sakti, Kabupaten Lingga, itu menjadi salah satu dari 20 personel TNI Angkatan Darat yang terpilih mengikuti program pelatihan intensif Indonesia Spider Jujitsu (ISJ). Selama dua bulan penuh, pagi hingga malam, ia digembleng dalam latihan yang menguras fisik, mengasah teknik, sekaligus membentuk mental bertanding sebagai seorang petarung.
Hasil dari tempaan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk terlihat. Pada ajang yang diikutinya, Serda Adi tampil percaya diri menghadapi lawan-lawan yang lebih berpengalaman. Kerja keras selama dua bulan berbuah manis ketika ia sukses meraih medali emas, sekaligus menegaskan diri sebagai pendatang baru yang patut diperhitungkan dan berpotensi menjadi ancaman bagi para atlet jujitsu lainnya.

Serda Adi Guna Iskandar adalah prajurit muda YONIF TP 849/Beladau Sakti, Lingga, itu menjadi satu dari 20 prajurit TNI AD yang dipilih mengikuti pelatihan intensif Indonesia Spider Jujitsu (ISJ). Selama dua bulan, pagi dan malam, mereka menukar waktu istirahat dengan latihan. Menukar rasa lelah dengan harapan.
Dojo Kenacha Martial Arts Academy di Mall Botania 2, Batam, menjadi rumah kedua. Tempat tubuh dibentuk. Mental ditempa. Dan persaudaraan dilahirkan. Latihan itu keras. Sangat keras.
Matras sering kali basah oleh keringat. Kadang juga oleh darah yang keluar dari luka. Memar menjadi teman akrab. Nyeri menjadi bagian dari rutinitas. Namun tak ada keluhan yang dibiarkan tumbuh. Yang tumbuh justru rasa saling menjaga.
Mereka bertarung sekuat tenaga. Lalu saling merangkul setelah latihan usai. Di balik teknik bantingan dan kuncian, tersimpan ikatan yang lebih kuat daripada sekadar rekan berlatih. Mereka adalah keluarga yang dipersatukan oleh perjuangan.
Begitulah wajah sejati jujitsu. Seni bela diri yang mengajarkan ketenangan di tengah tekanan. Kecepatan dalam mengambil keputusan. Ketepatan membaca situasi. Kemampuan melumpuhkan lawan dengan efisien. Bagi seorang prajurit, semua itu bukan sekadar olahraga. Melainkan bekal menghadapi tugas, menjaga diri, melindungi rakyat, dan menyelesaikan ancaman dengan penuh kendali.
Dua bulan berlalu. Kerja keras itu akhirnya berbicara. Pada Jumat, 31 Juli 2026, Adi bersama rekan-rekannya dinyatakan lulus Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Sabuk Biru Indonesia Spider Jujitsu (ISJ). Sebuah warna yang bukan sekadar penghias pinggang, melainkan lambang dari disiplin yang telah mereka bayarkan dengan ribuan repetisi latihan.
Namun perjalanan belum selesai. Sehari berselang, matras kembali memanggil.
Spider Challenge 2026: Kejuaraan Jiujitsu Antar Dojo se-Provinsi Kepulauan Riau, menjadi panggung pembuktian. Event bergengsi level provinsi ini digelar di Atrium Utama Mall Botania 2 (MB2) Batam Kota, Sabtu (1/8).
Adi turun di kelas Adult -56 Kg Jiujitsu Putra. Sebuah kelas yang dikenal ganas. Kelas yang dihuni atlet-atlet terbaik. Tak ada ruang untuk lengah.
Dengan sistem pertandingan round robin, para atlet dibagi ke dalam Grup A dan Grup B. Hanya dua terbaik dari masing-masing grup yang berhak melangkah ke semifinal.
Persaingan begitu rapat. Kesalahan sekecil apa pun dapat mengubur mimpi. Namun Adi tampil tenang.
Satu demi satu lawan berhasil dilewati. Ia memenangi seluruh pertandingan fase grup. Langkahnya tak goyah hingga babak semifinal.
Final menjadi ujian terakhir. Di hadapannya berdiri Galang. Petarung tangguh yang juga mengincar emas. Pertandingan berlangsung sengit.
Keduanya saling membaca. Saling menyerang. Saling menutup celah. Hingga waktu normal berakhir dengan kedudukan imbang.
Laga berlanjut ke penambahan waktu. Ketegangan memenuhi arena.
Dalam satu momen yang menentukan, Adi bergerak lebih cepat. Ia melepaskan takedown bersih. Poin itu menjadi penentu. Wasit mengangkat tangan untuk kemenangan Adi.
Medali emas pun resmi menjadi milik prajurit YONIF TP 849/Beladau Sakti.
“Ini bukan akhir perjalanan,” ujarnya. Ia lahir di Batam, 21 Desember 2005. Masih muda. Berpangkat Sersan Dua. Gemar berlari untuk menjaga daya tahan. Tetap merindukan masakan ibu sebagai hidangan paling istimewa. Menjadikan senja di pantai sebagai tempat favorit untuk menenangkan pikiran setelah kerasnya latihan.
Di balik wajah tenangnya, tersimpan sebuah keyakinan sederhana. “Sembunyikan prosesmu dan tunjukkan hasilmu,” ucapnya.
Kalimat itu bukan sekadar motto. Ia telah menjalaninya. Dua bulan ditempa dalam diam. Bekerja tanpa banyak bicara. Lalu membiarkan medali emas menjadi jawabannya.
Kini, Adi telah menatap tujuan berikutnya. Dengan suara yang tenang, ia menyampaikan harapannya, “Saya akan berdoa dan berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi.”
Sebuah kalimat sederhana. Namun dari prajurit yang terbiasa berbicara lewat tindakan, kalimat itu terdengar lebih nyaring daripada sorak kemenangan.(tjl)