Keprisatu.com – Warga Pulau Labu Kelurahan Batu Legong, Kecamatan Bulang mengadu ke Komisi III DPRD Kota Batam, Senin (1/2/2021). Pengaduan tersebut sama halnya dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, yakni terkait limbah Minyak Hitam dari kapal yang docking di PT Marcopolo Shipyard.

Perwakilan Masyarakat Pulau Labu, Ahmad mengatakan, masyarakat mengadu ke DPRD Batam hanya ingin masalah ini selesai dengan cepat. Kata dia, setalah mereka mengadu ke anggota legislatif, maka langsung dijadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP).

“Sesuai jadwal, kalau tidak ada halangan besok akan digelar RDP. Warga sengsara dengan limbah ini, kami ingin permasalahan ini cepat selesai,” ujarnya.

Kata dia, RDP yang akan digelar esok hari, DPRD Batam akan memanggil pihak-pihak terkait. Diantaranya, pimpinan PT Marcopolo Shipyard, Kadis Lingkungan Hidup Batam, Camat Bulang, Lurah Batu Legong, RT, RW Pulau Air dan Labu, serta perwakilan masyarakat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Warga Pulau Labuh dan Pulau Air Kelurahan Batu Legong, Kecamatan Bulang melaporkan PT Marcopolo Shipyard ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Jumat (29/1/2021). Laporan ini karena diduga limbah Minyak Hitam yang mencemari kedua pulau tersebut berasal dari kapal tanker yang lagi docking di perusahaan tersebut.

“Kami datang kesini (DLH) untuk melaporkan PT Marcopolo Shipyard karena diduga telah melakukan pencemaran laut dan pengaduan kami sudah diterima oleh pihak DLH untuk ditindaklanjuti,” kata Ketua RW03 Pulau Labuh, Ramadhan saat berada di Kantor DLH Kota Batam.

Kata Ramadhan, pencemaran laut awal terjadinya tanggal 25 Januari 2021 kemarin. Kata dia, pencemaran air laut berupa minyak bercampur oli ini berasal dari kapal tanker yang sedang diperbaiki (naik dok) di perusahaan tersebut.

“Kami sudah sampaikan ke pihak perusahan, tapi mereka (perusahaan dan Agen kapal ini) sepertinya tidak mau bertanggungjawab, kedua perusahaan tersebut saling tolak menolak,” ucapnya.

Kata dia, adanya limbah ini berdampak pada masyarakat sekitarnya. Selama ini mata pencarian masyarakat sekitar ialah nelayan, adanya limbah ini merusak mata pencarian mereka.

“Kami tidak bisa melaut lagi, bahkan keramba ikan juga ikut tercemar,” ucapnya.

Kata Ramadhan, saat ini permintaan warga limbah tersebut bisa dibersihkan secapatnya. Selain itu juga, warga meminta kompensasi atas limbah dari perusahaan tersebut, bukan hanya tidak bisa melaut saja, tapi dari kesehatan juga berpengaruh karena aroma limbah ini sangat menyengat.

“Bau limbah ini sangat mengganggu kesehatan, dan bahkan warga sempat mengungsi karena tidak tahan dengan aromanya. Kami tidak tahu apakah limbah ini mudah terbakar atau tidak, yang jelas sudah sangat menyusahkan warga,” ucapnya.

Ketua RT07/RW03 Pulau Labuh, Rudi mengatakan, limbah minyak bercampur oli ini berasal dari kapal tanker yang sedang naik dok di PT Marcopolo Shipyard. Kata dia, kejadian ini baru pertamakalinya dialami warga pulau Labuh dan pulau Air.

“Kapal itu sepertinya berbendera India karena dilihat dari namanya. Kami sudah minta penjelasan ke pihak agen yang bernama Udin dan owner kapal, tapi mereka sepertinya tidak mau bertanggungjawab,” kata Rudi.

Rudi menuturkan, pertama pihak agen menganggap ini adalah musibah dan kedua mereka juga nyatakan kalau kapal tanker tersebut rusak. Namun, keesokan harinya sambung Rudi, mereka malah menghindar dan seperti tidak ada terjadi insiden.

“Saat bertemu dengan kami mereka bilang musibahlah, kapal rusaklah, tapi besoknya mereka malah menghindar dari kami (warga) seperti tidak ada kejadian,” ucapnya.

Amri, Ketua RT 02/RW 01 mengatakan, saat ini warganya sudah tidak bisa melaut lagi. Limbah minyak bercampur oli itu sudah mencemari laut disekitar pulau Air dan pulau Labuh.

“Harusnya sekarang ini kami mencari ikan Dingkis untuk Tahun Baru Imlek nanti. Sejak adanya limbah itu, kami tidak bisa melaut lagi, inilah momen dan harapan kami untuk mencari uang, adanya limbah ini kerugian kami bisa ditaksir ratusan juta,” ucapnya.

Kasi Trantip Lurah Batu Legong, Feri Ali Saputra membenarkan adanya limbah berupa minyak bercampur oli didaerahnya. Kata dia, pihaknya sempat mempertanyakan permasalahan ini ke perusahaan dan agen kapal tersebut.

“Agen ini awalnya mengakui kalau minyak hitam itu dari kapalnya, tapi besoknya mereka tidak mengakui dan sepertinya tidak terjadi apa-apa saja,” kata Feri saat menemani mereka ke kantor DLH Batam,” katanya yang menemani warga ke kantor DLH Kota Batam.

Kata dia, walaupun pihak agen tidak mau mengakui, namun warga memiliki bukti-bukti. Seperti video pertemuan antara warga dengan pihak perusahaan, mereka juga ada bukti lainnya.

“Mereka warga ada bukti video dan foto-foto pertemuan antara warga dengan pihak perusahaan dan agen,” ucapnya.(KS10).

Editor : Tedjo