Aktivitas di Kawasan Industri Lobam, salah satu jaringan bisnis Salim Group di Bintan, Kepri.

Keprisatu.com – Jaringan bisnis Salim Group terus berkembang bak pohon. Tunas baru pun bermunculan. Tak terkecuali di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Seolah tak pernah goyah dengan hantaman krisis. Puluhan tahun jaringan bisnis yang dirintis Sudono Salim alias Lim Sioe Liong di Kepri (dulu Riau), tetap stabil dan eksis hingga kini.

Tidak ada kata berhenti untuk berekspansi. Berbagai lini bisnis sudah dimasuki Salim Group. Mulai dari pengelolaan kawasan industri, galangan kapal, pertanian dan peternakan, properti hingga industri pariwisata.

Tercatat perusahaan-perusahaan besar milik Salim Group di Kepri diantaranya PT Batamindo Invesment Cakrawala, PT Bintan Inti Industrial Estate, PT Karimun Sembawang Shipyard, PT Bintan Resort Cakrawala, PT Buanamegawisataman, PT Indotirta Suaka, PT Surya Bangun Pratiwi dan Gallant Venture Ltd yang berbasis di Singapura.

”Oh, terima kasih. Karena masih ingat dengan kami-kami dan usaha-usaha dalam grup kami,” tutur Juru Bicara Salim Group, Jamin Hidajat menjawab Keprisatu.com, Kamis (10/10/2020) terkait perkembangan usaha Salim Group di Kepri.

Jamin mengaku sejauh ini tentu ada beberapa penurunan, namun bisnis Salim Group di Kepri boleh dikatakan stabil.

Mengenai jumlah tenaga kerja dalam jaringan bisnis Salim Group di Kepri, juga tidak banyak mengalami perubahan. Dari tahun ke tahun relatif tetap.

Angka tenaga kerja yang dilibatkan di Kepri bisa di atas angka 300-an ribuan. ”Tidak beda jauhlah. Masih tetap,” jawab Jamin terkait angka tenaga kerja yang dilibatkan oleh Salim Group.

Perkembangan terbaru, Salim Group segera akan memasuki bisnis pengelolaan air di Pulau Batam. PT Moya Indonesia selaku pemenang tender pengelolaan air bersih siap untuk masuk ke Batam.

”Saya dengar begitu, PT Moya yang siap masuk kelola air. Kami sebagai anak buah di sini, ikut perintah Salim Group pusat,” ujar manajer senior Salim Group ini.

Sebelumnya, panitia tender di Badan Pengusahaan (BP) Batam telah mengundang perusahaan-perusahaan yang mempunyai
pengalaman dalam sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Indonesia. Pengalaman perusahaan-perusahaan yang diundang untuk SPAM minimun berkapasitas 3.000 liter per detik.

Ada empat perusahaan yang diundang BP Batam untuk mengikuti tender. Diantaranya PT Pembangunan Perumahan (PP) Infrastruktur, PT Moya Indonesia, PT Suez Water Treatment Indonesia, dan PT Adhya Tirta Batam. Setelah melalui proses tender dari 12 Agustus sampai 4 September, akhirnya PT Moya Indonesia memenangkan tender pengelolaan air bersih untuk Pulau Batam. Direncanakan PT Moya akan mengelola air bersih di Batam selama masa transisi (6 bulan) dari PT ATB ke BP Batam. (arham)