Keprisatu.com – Persatuan Mubaligh Batam (PMB) menggelar pendidikan dan latihan (Diklat) bertema ‘Peningkatan Peran Mubaligh Menghadapi Era Digital’. Kegiatan yang didukung Semen Indonesia ini berlangsung di Golden Bay Hotel, Bengkong, Batam selama dua hari, Jumat sampai Sabtu (9-10/4/2021).

Untuk membekali mubaligh di era digital, PMB menghadirkan pemateri dari berbagai kalangan. Di antaranya tokoh penggerak PMB, KH. Didi Suryadi, Zulkifli Aka, Syamsul Ibrahim, insan pers Zaki Setiawan, hingga Ketua Ikatan Persatuan Imam Masjid (IPIM) Batam Lukman Rifai.

Dalam pemaparannya, Zaki menyampaikann pentingnya pemanfaatan teknologi informasi untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada umat di era digital. Mengingat pesatnya kemajuan teknologi informasi dan pertumbuhan penggunanya, maraknya hoax, dan banjirnya informasi dengan tafsir kebenaran versi masing-masing.

“Awal 2021, jumlah pengguna internet mencapai 202,6 juta jiwa, meningkat 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini tergolong pesat, melebihi dari laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,25 persen per tahun,” katanya.

Banjir informasi, jelas Zaki, membuat banyak orang lebih mudah menyebarkan informasi tanpa verifikasi terlebih dahulu dari kebenaran informasi itu sendiri. Hal ini ditandai dengan menguatnya opini publik dibanding fakta objektif. Akibatnya, sulit membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Terkadang, yang menyebarkan juga tidak mengetahui jika informasi itu salah, langsung disebar begitu saja.

“Hal ini memicu misinformasi dan kebingungan publik atas kebenaran suatu informasi. Jadi, fakta, realita, obyektif, menjadi tidak lagi berpengaruh,” jelasnya.

Zaki juga menyoroti maraknya hoax, terutama di media sosial. Beberapa di antara hoax ini, bahkan diproduksi oleh akun-akun tak bertanggung jawab, berlindung di balik anonimitas. Keberadaan akun-akun anonim ini membuat semua orang merasa bebas bicara apa saja dengan mengaburkan fakta dan identitas.

Atas beberapa persoalan itulah ia mendorong penggunaan teknologi informasi dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada umat. Jadi tidak lagi sebatas dakwah secara pertemuan langsung, tatap muka, tapi juga dalam bentuk lain, tulisan atau dakwah bil qolam hingga dengan konten-konten video.

“Sama seperti dakwah bil lisan, dakwah bil qalam ini juga memerlukan keseriusan. Mengingat saat ini, masyarakat cenderung memanfaatkan media dalam mencari berbagai informasi yang dibutuhkan. Di samping itu, media tulisan dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama, mudah dicari kapan saja, dan bisa menjangkau lebih banyak khalayak,” katanya.

Diklat bagi mubaligh ini merupakan salah satu program PMB masa khidmat 2020-2025 di bawah kepemimpinan Suyono. Program ini adalah upaya PMB dalam melakukan penguatan kualitas mubaligh dan mubalighah.

“Dakwah bersifat universal tidak hanya dilakukan di atas mimbar. Penguatan kualitas ini disesuaikan dengan latar belakang masing-masing. Kami juga punya dan pastinya akan edukasi dengan bagaimana kemampuan menulis ditingkatkan. Lalu bidang lingkungan hidup, dengan mengadakan tanam pohon bersama lembaga lain,” kata Suyono. (KS15)

Editor : Tedjo