Batam, Keprisatu.com – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kepulauan Riau (Kepri) mencatat 28 kejadian kecelakaan laut maupun operasi kemanusiaan sejak Januari hingga Agustus 2026. Dari rangkaian kejadian tersebut, sebanyak 10 orang dilaporkan meninggal dunia, 45 korban berhasil diselamatkan, sementara enam orang lainnya masih belum ditemukan.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Basarnas Kepri Fazzli mengatakan, enam korban yang hingga kini belum ditemukan umumnya berada dalam kondisi pencarian yang cukup sulit. Lokasi pasti kejadian juga menjadi salah satu kendala, terutama pada kasus korban yang diduga jatuh ke laut. “Untuk korban yang hilang, lokasinya tidak pasti. Sebagian besar karena jatuh ke lautan. Kita sudah melakukan pencarian hingga 10 hari,” kata Fazzli, Jumat (7/8) pagi.
Menurutnya, faktor angin dan arus laut menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian. Kondisi tersebut dapat menyebabkan korban maupun benda yang dicari berpindah dari lokasi awal kejadian. Meski demikian, Basarnas tetap melakukan pencarian berdasarkan informasi dan perkembangan terbaru, termasuk dengan menggali informasi dari para nelayan.
Untuk meningkatkan kemampuan pencarian, Basarnas Kepri juga terus memperkuat peralatan SAR. Salah satunya dengan menggunakan teknologi pencarian bawah air seperti Aqua Eye dan sonar yang mampu membantu mendeteksi keberadaan korban di bawah permukaan air hingga kedalaman sekitar 100 meter. “Peralatan tersebut telah digunakan dalam sejumlah operasi pencarian, termasuk pencarian korban tenggelam di laut maupun sungai,” ujarnya.
Teknologi ini juga menjadi salah satu andalan Basarnas dalam mempercepat proses pencarian ketika kondisi medan dan jarak pandang di bawah air menyulitkan petugas. Selain teknologi bawah air, Basarnas Kepri juga memiliki drone termal untuk mendukung pencarian di darat maupun perairan.
Perangkat tersebut mampu mendeteksi pantulan suhu tubuh manusia dan dapat digunakan dalam operasi pencarian di kawasan hutan, laut, hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jangkauan pengoperasiannya juga dapat mencapai sekitar satu kilometer di wilayah laut.
Fazzli mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi cuaca yang berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat di wilayah perairan Kepri. Sebagai daerah kepulauan, aktivitas masyarakat Kepri sangat bergantung pada transportasi laut sehingga aspek keselamatan harus menjadi perhatian bersama. “Kita berharap seluruh instansi meningkatkan keselamatan. Secara teknis kita meningkatkan kesiapsiagaan personel dan sarana, baik kapal maupun helikopter. Seluruh personel juga siaga di setiap pos SAR yang ada di seluruh Kepri,” ujarnya.
Masyarakat yang membutuhkan pertolongan dapat menghubungi call center 115. Disisi lain, Basarnas juga tengah mendorong peningkatan status Pos SAR di Batam menjadi Kantor SAR. Fazzli menyebut langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan operasi pencarian dan pertolongan, khususnya di Batam yang memiliki aktivitas laut tinggi serta berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Saat ini, prosesnya masih dalam tahap kajian dan menunggu dukungan dari pemerintah daerah. “Pemko Batam juga akan menyampaikan dukungan. Mudah-mudahan secepatnya, mohon doanya, kantor Basarnas Batam bisa terealisasi,” katanya.
Ia menegaskan dukungan pemerintah daerah sangat penting agar peningkatan sarana, prasarana, sumber daya manusia, serta status kelembagaan Basarnas di Batam dapat berjalan optimal demi menjamin keselamatan masyarakat di wilayah perbatasan. (Pur)




