Tika, pemilik DMollis Handcraft.

Keprisatu.com – Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Tidak sedikit pengusaha yang terpaksa menutup usahanya karena terdampak pandemi ini.

Namun, hal berbeda yang dirasakan Tika, ibu dua orang anak, pemilik DMollis Handcraf, di Batam. Pandemi kali ini mengajarkan Tika untuk berinovasi hingga ia memperoleh berkah yang luar biasa. Berawal dari bisnis handcraft yang digelutinya sejak 2015 lalu, Tika mencoba keberuntungan dengan memproduksi masker kain.

Bisnis masker kain di kala pandemi ini dimulai Tika dari workshop miliknya yang berada di kawasan Tiban III, Kecamatan Sekupang, Batam. Workshop yang biasa memproduksi handcraft seperti pouch, blanket, clutch dan kerajinan lainnya, diubah Tika untuk memproduksi makser kain.

“Aku mulainya saat pemerintah gencar mengimbau masyarakat agar menggunakan masker kain. Karena saat itu, masker medis sangat langka dan kalau pun ada, harganya sudah sangat tinggi,” kata Tika.

Seketika, Tika mencoba keberuntungan dengan memproduksi masker kain dengan desain masker lipat. Menggunakan kain perca yang ada di workshopnya, Tika mencoba berkreasi. Semua tak mudah dan butuh perjuangan untuk menciptakan masker kain yang nyaman dan diminati masyarakat.

“Awalnya aku males-malesan mau buat, karena takut enggak laku. Tapi karena ada temenku yang minta dibuatkan, akhirnya aku coba buat. Dan itu enggak gampang, karena untuk memproduksi masker kain model lipat itu, pengerjaannya sedikit ribet. Setelah jadi, ternyata antusiasnya orang-orang lumayan banget. Dari batch satu, sampai sekarang sudah 12,” kata Tika lagi.

Tak hanya berpikir untuk menyajikan masker yang nyaman, Tika juga mulai berkreasi menciptakan masker kain dengan desain rider. Ini ia lakukan setelah mencari tahu jenis dan model masker yang diminati banyak orang. Menggunakan material kain yang nyaman, Tika juga menyuguhkan masker kain dengan berbagai pilihan motif yang kekinian. Ini lah yang membuat masker kain Tika semakin diminati, mulai dari kalangan dewasa hingga anak-anak.

“Aku sengaja buat masker untuk anak-anak juga dengan motif yang lucu-lucu, agar mereka senang menggunakan masker. Selain aku produksi masker-masker dengan motif-motif yang bagus, aku juga menerima orderan masker custom dari instansi-instansi, perusahaan swasta dan komunitas. Ini yang membuat aku semakin bersemangat untuk berinovasi, karena produk yang aku hadirkan diminati banyak orang,” tutur tika.

Tika juga tidak ambil pusing dengan aturan social distancing yang diterapkan oleh pemerintah. Pasalnya, ia memanfaatkan sosial media sebagai sarana promosi setiap produk-produknya. Setiap hari, Tika mempromosikan produk masker kainnya melalui media sosial Instagram. Bahkan, ia juga bekerjasama dengan beberapa cafe untuk menitipkan masker kainnya di sana.

“Strategi marketing hanya menggunakan media sosial. Aku benar-benar manfaatkan media sosial untuk memasarkan masker-masker aku. Ditambah lagi, dengan keahlian suamiku di bidang desain, jadi kami kayak cocok banget. Aku minta bantu dia untuk mendesain gambar-gambar postingan aku di media sosial. Selain itu, aku titipkan juga di (cafe) Rimbun Kopi dan Titik Kumpul. Sekali nitip di sana, biasanya 50 piece, sebulan sekali. Setiap restock, paling sisa sekitar 10 piece,” kata Tika.

Di saat banyak orang mengalami kehilangan sumber penghasilan atau penghasilan yanag menurun, Tika malah menghasilkan pundi-pundi rupiah yang sangat membantu perekonomian keluarganya selama pandemi. Tak main-main, dalam sebulan, Tika mampu meraup keuntungan hingga Rp25 juta, hanya dari penjualan masker saja.

“Karena memang, mulai pandemi ada, kerjaan suamiku berhenti, aku juga berhenti. Otomatis kami tidak ada penghasilan yang pasti. Tapi, aku bersyukur banget, pendapatan dari masker kain ini bisa menutupi semua kebutuhan keluarga kami,” ucap Tika.

Tidak hanya membantu ia dan keluarganya semata, bisnis masker kain Tika juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang terdekatnya. Meskipun tak banyak, ia berhasil mempekerjakan 3 orang penjahit dan satu orang lainnya yang bertugas sebagai tenaga administrasi.

“Meskipun aku sudah turun tangan langsung menjahit, tapi tidak mencukup untuk menghandle semua orderan yang ada. Aku mempekerjakan 3 penjahit, yang kebetulan juga adalah orang-orang terdekat aku. Bahkan aku juga mempekerjakan satu orang admin untuk mengatur orderan,” kata Tika.

Hal lain yang juga membuat Tika bahagia adalah ketika produknya terpilih menjadi souvenir pernikahan dari selebgram asal Batam, Sherel Talib dan Taqy Malik, yang berlangsung di Batam, beberapa waktu lalu. Kala itu, Tika mendapat orderan 100 kotak souvenir Sanitier Kits, yang berisi dua masker kain, satu handsanitizer dan satu pouch seharga Rp115 ribu per kotak.

“Pandemi Covid-19 ini benar-benar membawa berkah buat aku dan orang-orang di sekitar aku. Aku benar-benar bersyukur bisa dapat rejeki yang luar biasa, meskipun kondisinya saat ini benar-benar menyulitkan. Ini juga mengajarkan aku bahwa apapun masalah yang kita hadapi, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Mengeluh adalah hal yang wajar, namun jangan sampai membuat kita berusaha untuk melakukan hal-hal baru,” kata Tika.

Kendati demikian, Tika juga mengeluhkan perihal kebijakan pajak yang diberlakukan untuk setiap barang yang keluar dari Batam, sebagaimana diatur dalam PMK 199. Menurutnya, kebijakan tersebut sangat menyulitkan pelaku UMKM seperti dirinya. Menurutnya, UMKM di Batam tidak bisa bersaing dengan UMKM lain karena terkendala dengan ongkos kirim ditambah dengan pajak yang sangat tinggi.

“Awalnya aku senang, karena bisa menjangkau market di luar Batam. Tapi, terkendala dengan pajak itu. Pembeli enggak mau menanggung ongkos kirim dan pajak yang hitungannya sangat mahal. Jadi, awalnya kami yang bersemangat mengepakkan sayap, harus ciut lagi dengan kebijakan ini. Ini sih yang aku harapkan dari pemerintah. Aku berharap, kebijakan-kebijakan apapun yang dikeluarkan pemerintah, hendaknya memikirkan nasib kami, pelaku usaha kecil ini,” tutup Tika.(aini)