Laporan Nosy Syarfita / Anggota IKWI Kepri, Pulau Penyengat
ANGIN malam khas pesisir mengiringi jamuan makan di Restoran Kopi Rempah Senandung, Pulau Penyengat, pada Sabtu malam (17/10/2026). Di tengah puluhan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Kepulauan Riau, sosok Misni nampak hadir membaur tanpa sekat. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri itu melebur lincah dalam tawa dan obrolan hangat.
Malam itu, Misni tampil elegan. Ia mengenakan gaun monokrom hitam yang berpadu serasi dengan hijab putih bermotif kembang kecil. Sebuah tas tangan Bonia melengkapi penampilannya. Pulasan lipstik merah di bibirnya memancarkan energi dan ketegasan, tapi tetap menebarkan kehangatan bagi siapa saja yang menyapanya.
Misni mengambil tempat duduk semeja dengan Istri Gubernur Kepri, Dewi Kumalasari Ansar dan Ketua IKWI Kepri, Rohimah, beserta sejumlah pengurus dan anggota. Matanya terlihat awas menyapu seisi ruangan. Ingatannya pada rekan-rekan media, rupanya masih sangat tajam. Ia berusaha mengenali satu per satu wajah jurnalis yang hadir malam itu.
“Itu Suhardi, kan?” sapa Misni riang, sembari menunjuk Ketua PWI Kota Tanjungpinang yang duduk di meja berdepan-depanan dengannya.
Ia juga langsung mengenali Desi, wartawati dari harian Posmetro. Jamuan makan malam dalam rangkaian acara “Explore Penyengat 2026” yang digelar PWI Kepri ini pun seketika berubah layaknya ajang reuni. Misni tak segan memeluk dan melayani swafoto bersama awak media perempuan, yang seketika menghapus batas kaku antara pejabat birokrasi dan jurnalis.
Keakraban ini bukan kebetulan semata. Bagi Sekda perempuan pertama di Kepri tersebut, wartawan adalah mitra strategis pemerintah. Ia menyadari sepenuhnya peran vital pers dalam mendistribusikan informasi pembangunan ke tengah masyarakat luas.
“Kita punya banyak program yang harus tersampaikan kepada masyarakat dengan cepat dan benar. Di sinilah peran wartawan menjadi sangat penting,” imbuh Misni.
Alarm dari Penyengat
Namun, di balik kehangatan malam itu, Misni menyimpan sebuah kegelisahan mendalam. Ia menatap lekat fenomena disrupsi digital yang bergerak terlampau cepat. Terselip kekhawatiran di benaknya bahwa jurnalis berpengalaman yang hadir malam itu, jangan sampai jadi ‘generasi terakhir’.
Generasi terakhir yang ia maksud adalah jurnalis dengan kemampuan merangkai tulisan secara komprehensif, tajam memetakan masalah, gigih menggali data, dan ulet membangun jaringan dengan narasumber. Misni khawatir generasi masa depan, khususnya Gen-Z, akan kehilangan kemandirian intelektual seperti itu.
“Saya khawatir ke depan generasi muda hanya mengandalkan kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, data yang mereka terima tidak tersaring dengan baik, sementara pengalaman lapangan mereka juga belum mumpuni,” ungkap Misni menumpahkan kerisauannya.
Pesan dari Pulau Penyengat malam itu menjadi alarm penting. Digitalisasi memang membawa lompatan kemudahan, tetapi kemajuan teknologi tidak boleh menumpulkan naluri, relasi manusia, dan akurasi yang menjadi ruh utama jurnalisme. (*)




