Batam, Keprisatu.com – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga menjadi titik temu yang menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman dan berbagai perubahan zaman.
Ketua DPP IARMI Provinsi Kepulauan Riau, Ir. Agus Wibowo, MM, mengatakan makna “kesaktian” Pancasila perlu dimaknai dalam konteks sejarah sekaligus tantangan kehidupan bangsa saat ini.
“Pancasila disebut sakti karena mampu menjadi dasar dan titik temu bangsa Indonesia, menjaga persatuan di tengah keberagaman, serta tetap relevan menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman,” ujar Agus.
Menurutnya, Hari Kesaktian Pancasila tidak cukup dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan bangsa sekaligus memastikan nilai-nilai Pancasila tetap hidup dalam kehidupan masyarakat, termasuk di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.
Dari Sejarah Pancasila ke Tantangan Zaman
Pancasila lahir melalui proses sejarah yang panjang. Gagasan mengenai dasar negara dibahas dalam sidang BPUPKI pada 1945, kemudian mengalami proses perumusan dan penyempurnaan hingga menjadi rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945.
Sementara itu, Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober berkaitan dengan rangkaian peristiwa 30 September hingga 1 Oktober 1965 yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
“Sejarah Pancasila menunjukkan bahwa bangsa Indonesia dibangun melalui proses dialog, perbedaan pandangan dan pencarian titik temu. Nilai inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” kata Agus.
Menurutnya, generasi saat ini perlu memahami sejarah tersebut bukan sekadar untuk menghafal peristiwa masa lalu, tetapi untuk memahami mengapa persatuan, toleransi, musyawarah dan penghormatan terhadap kemanusiaan tetap penting dalam kehidupan berbangsa.
Ancaman Ideologi Semakin Kompleks
Agus menilai tantangan dalam menjaga Pancasila saat ini semakin kompleks. Ancaman terhadap ketahanan ideologi tidak hanya berkaitan dengan berkembangnya paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, tetapi juga muncul dalam bentuk radikalisme, ekstremisme, propaganda, disinformasi, polarisasi sosial dan berbagai bentuk manipulasi informasi.
Termasuk di dalamnya kewaspadaan terhadap munculnya kembali gagasan komunisme dalam berbagai bentuk yang perlu dipahami secara kritis dalam konteks sejarah dan kehidupan berbangsa.
“Generasi muda menghadapi spektrum tantangan yang jauh lebih kompleks. Ada tantangan ideologi, radikalisme dan ekstremisme, disinformasi, propaganda, polarisasi, manipulasi informasi sampai penyalahgunaan teknologi. Semuanya dapat saling berkelindan melalui ruang digital,” ujar Agus.
Menurutnya, kewaspadaan terhadap berbagai ancaman ideologi harus dibangun melalui pendidikan, pemahaman sejarah, literasi digital dan penguatan nilai Pancasila, bukan melalui ketakutan atau sikap anti terhadap perkembangan zaman.
Era AI dan Algoritma Mengubah Bentuk Ancaman
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan algoritma menghadirkan tantangan baru. Teknologi memungkinkan informasi diproduksi dan disebarkan dalam skala yang jauh lebih besar dan cepat.
AI bahkan mampu menghasilkan teks, gambar, suara dan video yang semakin menyerupai konten nyata. Dalam kondisi tertentu, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan disinformasi, manipulasi informasi, propaganda digital maupun konten yang memperkuat polarisasi.
“Ancaman terhadap persatuan tidak selalu datang dalam bentuk yang terlihat. Di era AI dan algoritma, informasi yang salah dapat dikemas sangat meyakinkan, disebarkan dengan sangat cepat dan memengaruhi cara orang berpikir,” kata Agus.
Karena itu, menurutnya, ketahanan nasional di era digital juga membutuhkan ketahanan informasi dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi manipulasi digital.
“Teknologi bukan musuh. AI juga bukan ancaman dengan sendirinya. Yang perlu kita waspadai adalah bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana manusia meresponsnya,” ujarnya.
Pancasila Harus Hadir di Ruang Digital
Agus menegaskan bahwa nilai Pancasila harus hadir dalam perilaku generasi muda ketika menggunakan teknologi.
Menjaga Pancasila, kata dia, tidak hanya dilakukan melalui upacara, kegiatan kebangsaan atau pembelajaran di ruang kelas. Pancasila juga harus tercermin dalam perilaku di media sosial dan ruang digital.
“Jaga Pancasila bukan hanya di ruang kelas dan ruang upacara. Jaga Pancasila juga di ruang digital. Saring informasi sebelum menyebarkannya, jangan mudah terprovokasi oleh algoritma, hormati perbedaan, gunakan AI secara bertanggung jawab dan jangan biarkan teknologi menghilangkan nilai kemanusiaan,” tegas Agus.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi.
“Generasi muda harus menjadi pengguna sekaligus pencipta teknologi. Kuasai AI, pahami algoritma, bangun inovasi, tetapi tetap memiliki etika, tanggung jawab dan kesadaran kebangsaan,” katanya.
Menwa dan IARMI Hadapi Tantangan Generasi Baru
Menurut Agus, nilai-nilai yang selama ini dibangun dalam pembinaan Menwa, seperti disiplin, kepemimpinan, tanggung jawab, kecintaan kepada tanah air dan pengabdian kepada masyarakat, tetap relevan untuk menghadapi tantangan generasi baru.
Nilai tersebut perlu diterjemahkan dalam bentuk pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan zaman, termasuk pendidikan, kemanusiaan, literasi digital, inovasi teknologi, penanggulangan bencana, pemberdayaan masyarakat serta penguatan ketahanan nasional.
“Semangat bela negara hari ini tidak hanya berada di lapangan. Bela negara juga berarti memiliki kemampuan menjaga informasi, melawan disinformasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan memastikan kemajuan digital memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Agus.
Generasi Muda Jangan Kehilangan Jati Diri
Agus mengingatkan generasi muda agar tidak membiarkan perkembangan teknologi menggeser nilai kemanusiaan dan identitas kebangsaan.
Menurutnya, generasi muda harus mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan pijakan nilai.
“Jadilah generasi yang menguasai teknologi, bukan dikuasai teknologi. Pahami AI dan algoritma, tetapi jangan kehilangan daya kritis. Gunakan teknologi untuk belajar, berkarya, berinovasi dan mengabdi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Pancasila tetap relevan karena persoalan mendasar kehidupan bangsa tidak berubah, meskipun bentuk tantangannya terus berkembang.
“Pancasila tetap relevan karena nilai dasarnya berbicara tentang manusia, persatuan, musyawarah dan keadilan. Tantangan boleh berubah dari ancaman konvensional menjadi ancaman digital, tetapi kebutuhan bangsa untuk menjaga persatuan tetap sama,” ujar Agus.
Pada momentum Hari Kesaktian Pancasila 2026, IARMI Kepri mengajak generasi muda untuk menjadikan perkembangan teknologi sebagai sarana memperkuat persatuan dan kemajuan Indonesia.
“Teknologi boleh berkembang, AI boleh semakin cerdas, algoritma boleh semakin kompleks, tetapi manusia tetap harus memiliki nilai. Mari kita kuasai teknologi tanpa kehilangan jati diri, manfaatkan AI tanpa kehilangan kemanusiaan, dan gunakan ruang digital untuk memperkuat persatuan Indonesia,” tutup Agus. (tjl)




