Oleh : Anton Permana

(Pemerhati dan Analis Sosial Politik)

Sampai tanggal 26/07/2020, setidaknya sudah ada tiga pasang nama yang mengkerucut untuk di gadang maju Pilkada Kepri 2020. Pilkada ke-4 kali ini dirasa sedikit berbeda dan berdebar-debar, melihat formulasi dan irisan masing-masing pasang kandidat yang maju.

Anton Permana

Tercatat sudah deklarasi pasangan Ansar Ahmad – Marlina Muhammad Rudi koalisi Golkar dan Nasdem. Selanjutnya Soeryo – Iman Setiawan koalisi PDIP, Gerindra, dan PKB. Terakhir pasangan Isdianto – Suryani koalisi PKS dengan Demokrat/Hanura (untuk pasangan ini kita mesti bersabar untuk informasi finalnya).

Meskipun jadwal pendaftaran masih cukup lama dan belum final. Setidaknya tiga pasang nama di atas yang sudah muncul terbuka kepada publik lengkap dengan koalisi partai politiknya.

Tapi namanya politik, ibarat pernikahan, sebelum janur kuning melingkar masih ada kemungkinan perubahan besar bisa terjadi. Begitu juga dalam politik. Sebelum ketok palu oleh KPUD secara resmi, segala kemungkinan bisa terjadi untuk berubah. Karena untuk konteks Pilkada Kepri, masih ada satu nama yang tersisa dan tidak bisa dianggap remeh mantan Gubernur pertama Kepri Ismeth Abdullah yang juga masih aktif berselancar di antara riak gelombang ombak lautan politik Kepri yang bergelora.

Adapun beberapa nama lagi seperti Fauzi Bahar dan Huzrin Hood, tidak kita dengar lagi gerak politiknya. Meskipun juga dua tokoh ini berpotensi bisa membuat “hatrick” politik kejutan di menit terakhir.

Dalam pengalaman Pilkada sebelumnya. Malah ada yang hanya hitungan menit sebelum tutup pendaftaran, koalisi bubar dan bertukar pasangan. Begitulah dinamika politik Pilkada. Dinamis, kadang liar, tak pernah mengenal tanda “titik” selalu “koma” karena ikatan dalam politik itu adalah “kepentingan pragmatis”, bukan ideologis. Sekarang teman besok bisa jadi lawan. Dahulu lawan sekarang bisa jadi teman.

Kembali kepada bobot pasangan kandidat di atas. Banyak hal yang menarik kalau kita cermati dari “profiling” masing-masing kandidat di antaranya sebagai berikut:

1. Sejatinya, tiga nama Cagub di atas (Ansar-Soeryo-Isdianto) ibarat mata rantai sejarah yang tidak dapat terpisahkan. Karena, masing-masing Cagub dahulunya pernah dekat dan bahkan juga berpasangan dalam kontestasi Pilkada yang sama.

Soeryo-Ansar pernah berpasangan di Pilkada Kepri 2015, DUO HMS (Sani-Soeryo) dimana Isdianto adalah adik kandung (Alm) HM Sani juga pernah berpasangan dan menang di Pilkada Kepri 2010.

Artinya kalau kita berbicara profiling, karakter, dan style kandidat Cagub, saya yakin masing-masing Cagub sudah saling mengenal dan saling tahu “dapur politik” masing-masing. Inilah yang sangat menarik bagi saya, yang pasti masing-masing Cagub punya “jurus andalan” dan “kartu sakti” apakah itu untuk menyerang maupun bertahan.

Hal inilah yang semakin membuat Pilkada Kepri 2020 ini semakin seru. Namun saya juga tetap yakin, kondisi ini justru juga akan membuat Pilkada Kepri menjadi sejuk dan sehat. Karena tiga Cagub ini juga adalah para tokoh hebat yang saling bersahabat dekat.

2. Lebih menarik lagi pada kontestasi Pilkada Kepri 2020 ini ada dua orang Cawagub dari perempuan sekaligus. Dimana ini untuk pertama kalinya terjadi di Kepri. Ini membuktikan bahwa peran wanita di Kepri sangat diperhitungkan. Buktinya, dalam eskalasi keterpilihan DPR-RI dan DPD RI setiap Pemilu selalu ada figur perempuan Kepri yang duduk seperti: Hj Aida Ismeth (DPD RI), Hj Herlini Amran, LC.MA (DPR RI FPKS), Hj Dewi Latifah (DPR RI FPDIP).

Jadi tidak heran saat ini dalam Pilkada Kepri juga muncul dua sosok figur perempuan yaitu Hj Marlina Muhammad Rudi (yang juga istri Walikota Batam Muhammad Rudi) dan Hj Suryani dimana beliau adalah juga menjabat saat ini sebagai anggota DPRD Provinsi Kepri 4 periode.

3. Pilkada Kepri 2020 saat ini juga di bumbui dengan “perang urat syaraf” istilah politik dinasti. Namun menurut hemat saya, adagium politik dinasti ini dalam konteks tiga pasang kandidat ini sebenarnya tidak juga bisa di sematkan kepada satu pihak saja. Karena dari masing kandidat ini juga punya riwayat politik dinasti kalau jujur kita bicarakan.

Contohnya, kita mulai dari Ansar Ahmad yang mempunyai istri anggota DPRD yang saat ini duduk di DPRD Provinsi. Ibu Hj Marlina yang istri dari Walikota Batam.

Selanjutnya Soeryo Respationo juga punya riwayat istri (Alm) Hj Rekaveny yang pernah duduk di DPRD Batam dan juga punya putera yang juga saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Kota Batam.

Selanjutnya Isdianto yang juga adik kandung (Alm) HM Sani. Yang menjabat sebagai Gubernur Kepri. Dimana sebelumnya Isdianto adalah salah satu pejabat birokrat eselon II di kantor Gubernur Kepri. Karena Sang Kakak meninggal dunia, lalu digantikan oleh Wagubnya Nurdin Basirun, baru naik Isdianto jadi Wagub. Kemudian Nurdin kena OTT KPK, jadilah Isdianto sebagai Gubernur pengganti.

Artinya, secara hukum positif dan kultur budaya nusantara politik dinasti sebenarnya tidak ada masalah. Toh pada dasarnya akar budaya bangsa ini juga adalah feodalistik kerajaan. Dimana kepemimpinannya juga berdasarkan keturunan. Sistem politik dinasti ini juga terjadi di negara maju seperti Amerika sekalipun. Seperti presiden Duo Goerge W Bush senior dan yunior. Serta majunya Hillary Clinton istri dari Bill Clinton.

4. Kondisi “social distancing” pandemic covid19 juga memberikan tantangan baru bagi semua kandidat. Karena ada batasan ruang dan waktu untuk bersosialisasi. Otomatis dunia maya adalah medan utama pertempuran mengambil hati masyarakat yang di perkotaan.

Namun, karena tiga pasang kandidat ini adalah tokoh populis, jadi menurut prediksi dan analisa saya setidaknya 60-70 persen pemilih sudah punya pilihan. Tinggal menggarap yang 30 persen sisanya lagi. Masing-masing kandidat juga sudah punya basis massa tradisional. Jadi pergeseran dan upaya meraup suara sudah semakin ketat dan tajam.

5. Ini saatnya daerah seperti Natuna dan Anambas atau juga Lingga akan menjadi “penentu” kemenangan pasangan kandidat. Karena, basis massa tradisional masing-masing pasangan kandidat terkonsentrasi pada tiga lumbung utama suara di Kepri yaitu BBK (Batam, Bintan, Karimun).

Jadi tandem pasangan antara Pilgub dan Pilkada Kab/Kota di bawahnya juga akan memberikan konstribusi besar. Tandem dan konektivitas basis suara antara Pilgub dan Pilkada di bawahnya juga berdampak signifikan. Saya yakin para kandidat dan tim sukses, sudah punya kalkulasi matematika politiknya hingga tingkat pemungutan suara (TPS).

Lalu kita kembali pada isu paling panas yaitu isu politik dinasti. Yang terpenting itu adalah, apakah “personality” kualitas dari tokoh/keluarga politik dinasti itu mempuni atau tidak? Rakyatlah yang akan menentukannya.

Kalau kita berbicara dalam sejarah Islam. Dalam kepemimpinan Khalifah Urrasyidin, keempat Khalifah tersebut semuanya adalah keluarga Nabi Muhammad SAW. Abu Bakar adalah mertua Rasul. Umar Bin Khatab adalah sepupunya Rasul, dan Ali Bin Abi Thalib adalah menantunya Rasul.

Singkat kata, bagi saya isu politik dinasti hanyalah bumbu dari “perang urat syaraf politik” yang lazim terjadi asal tetap dilakukan pada koridor dan norma verbalisme yang bermartabat. Bukan caci maki.

Bagi saya, akan lebih asyik dan menarik lagi kalau kita membedah secara umum peluang dan tantangan masing-masing kandidat untuk berlaga maju ke depan.

Secara kuantitatif dan di atas kertas, saya menganalisa masing-masing pasangan kandidat ini mempunyai peluang yang hampir sama secara teknis dan formal. Tinggal memainkan trik, teknik, strategi “non-teknis” di lapangan saja. Siapa yang jeli membaca peluang, yang cepat mengeksekusinya, dan siapa yang paling bisa memanfaatkan energi momentum dan potensi kekuatan secara total presisi.

Pertama, untuk pasangan Ansar Ahmad-Marlina. Sebagai mantan Bupati Bintan dua periode dan sekarang berhasil juga duduk sebagai anggota DPR RI dengan suara terbanyak, mengukuhkan bahwa Ansar punya basis utama di Bintan yang kuat.

Pengalaman pernah menjadi pasangan Cawagub Soeryo Respationo pada Pilkada Kepri 2015 tentu sedikit banyak memberikan referensi “garapan kantong suara” bagi Ansar. Di tambah Ansar berpasangan dengan Marlina istri Walikota Batam, tentu akan menjadi tambahan energi besar buat mendulang suara di Batam. Karena HM Rudi dalam waktu bersamaan juga maju sebagai Cawako incumbent di Batam.

Namanya Cawako incumbent, tentu tidak bisa lepas dari pengaruh struktural dan sumber daya tools pemenangan yang melimpah. Saya membaca pasangan ini akan menjadikan Batam-Bintan-Lingga sebagai basis utama mendulang suara.

Kedua, pasangan Soeryo-Iman Setiawan. Sebagai mantan Wagub, Ketua DPD PDIP, mantan Ketua DPRD Kepri dan Batam, serta seabrek jam terbang pengalaman dan sepak terjang dalam dunia politik. Nama “Romo atau Ki Lurah” Soeryo Respationo tidak asing lagi bagi masyarakat Kepri khususnya Batam.

Jamak kita ketahui, Soeryo mempunyai basis masa solid dan militan dari kelompok perantau Jawa. Soeryo juga terkenal tokoh yang sangat diterima di kelompok banyak suku lainnya, termasuk etnis China yang secara kuantitas kalau di gabungkan angkanya cukup fantastis di Batam-Bintan-Karimun.

Ditambah lagi, Soeryo jeli mencari pasangan tokoh muda tempatan yang juga Ketua Gerindra Kepri yang saat ini menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Batam, yaitu Iman Setiawan. Putra asli tempatan Batam asal Pulau Kasu.

Secara basis masa kesukuan, pasangan ini saling melengkapi. Secara dukungan partai politik “awas”, pasangan ini adalah dukungan parpol penguasa hari ini. Apalagi, kalau seandainya pasangan ini bisa mentriger dan memobilisasi basis pemilih Pilpres gabungan 01 dan 02?

Saya membaca, pasangan Soeryo-Iman akan menjadikan Batam-Tj Pinang-Karimun sebagai basis utama.

Ketiga, pasangan Isdianto-Suryani. Sebagai pejabat aktif Gubernur Kepri, tentu secara momentum dan fasilitas akan menguntungkan Isdianto dalam bersosialisasi saat ini. Apalagi, beliau adalah adik kandung (Alm) HM Sani Gubernur dan tokoh kharismatik yang akrab di panggil “Ayah” oleh masyarakat Kepri.

Isdianto berlatar belakang birokrat sejati. Di mana, beliaulah satu-satunya kandidat yang berasal dari birokrat. Posisi (Alm) HM Sani yang menjabat dua periode Bupati Karimun, Wagub Kepri dan Gubernur Kepri, secara tak langsung memberikan keberuntungan irisan basis massa pendukung kepada Isdianto.

Namun apakah istilah “untung sabut” dari Ayah Sani juga turun kepada beliau? Wallahua’lam. Ditambah lagi Isdianto berpasangan dengan Suryani tokoh perempuan PKS yang ketika Pemilu 2019 kemarin suaranya cukup fantastis, hingga bisa menambah satu kursi di bawahnya.

Suryani adalah kader tulen PKS yang sesama kita ketahui dengan militansi, soliditas, dan real basis masa pendukungnya. Kalau kita cermati suara PKS total di Kepri sekitar 20 persen, ini cukup signifikan. Karena suara PKS itu real dan sulit di goyahkan.

Saya membaca, Batam-Karimun-Anambas-Bintan adalah basis utama pasangan ini.

Dari penjelasan di atas, dapat kita bayangkan betapa seru dan ketatnya persaingan pada Pilkada Kepri 2020 ini.

Siapa yang akan jadi pemenang, tinggal rakyat yang akan memilih dan menentukan. Tapi saya yakin, siapapun yang akan terpilih nantinya merekalah yang terbaik untuk Kepri. Karena ketiga pasangan ini adalah para tokoh terbaik bunda tanah Melayu ini.

Hanya kita berharap kepada para petugas penyelenggara, aparat TNI/Polri untuk berkerja profesional dan netral. Kondisi geografis dan psikografis Kepri sangat rawan untuk terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Tipologi geografis laut 94 persen dan daratan 6 persen, juga akan rentan untuk dijadikan peluang tidak sehat dalam politik.

Kesiapsiagaan, profesionalitas, dan kebijaksanaan kita semua adalah kunci dari sukses dan berkualitasnya Pilkada Kepri tahun ini.

Semoga dengan kebersamaan dan rasa persaudaraan, Pilkada Kepri 2020 ini dapat kita laksanakan dengan jujur dan berkualitas. Agar lahirlah pemimpin yang memang benar-benar lahir dari pilihan rakyat. Insya Allah.

Batam, 26 Juli 2020