Anton Permana

Oleh: Anton Permana
(Penulis adalah pengamat dan analis sosial politik dan pertahanan nasional, alumni Lemhannas RI PPRA 58 tahun 2018)

Pasca diumumkannya dua orang suspect corona di Indonesia merubah peta psikologis masyarakat, awalnya sibuk bersigelut dengan kegalauan informasi yang liar dan tidak jelas. Otomatis suspect corona yang berasal dari Depok membuncah seakan memecah kebuntuan tabir informasi, di mana sebahagian besar publik sulit percaya, kalau Indonesia zero suspect corona. Sedangkan secara logis kesehatan dan lintas lalu lalang manusia antara Indonesia dan China begitu masif sekali.

Namun, yang sangat penting menjadi catatan kita hari ini adalah bagaimana perjalanan bangsa ini ke depan sekiranya wabah virus corona ini yang berhulu di China menjadi titik letupan gelembung resesi ekonomi dunia? Apa langkah yang sudah disiapkan pemerintah Indonesia seandainya resesi ekonomi dunia ini benar terjadi?

Bagaimana pondasi fundamental ekonomi, politik, Hankam, sosial interest, bangsa Indonesia? Sudahkan pemerintah hari ini menyiapkan mitigasi dan langkah antisipatif terhadap ancaman itu?

Secara kasat mata kita semua sudah mengetahui bagaimana kegaduhan politik negara ini yang tak kunjung usai. Reformasi yang diharapkan sebagai pintu kesejahteraan ternyata hanya ilusi. Reformasi tak lebih hanya sebuah kedok untuk ‘membajak’ masa depan dan arah navigasi bangsa ini untuk menjadi super liberalis, dan tercerabut dari akar peradaban serta jati diri sebuah bangsa bernama Indonesia.

Amandemen inkonstitusional terhadap UUD 1945, telah merubah total jati diri bangsa Indonesia dari negara berfalsafah Pancasila (pure of culture) menjadi negara super liberalis di segala bidang. Dampaknya adalah Indonesia tidak lagi menjadi sebuah bangsa (nation state) tetapi bergeser menjadi ‘citizen state’ dengan menghilangkan hak berdaulat kepada pribumi asli dengan dihapusnya pasal 6 (ayat) 1 pada UUD 1945.

Amandemen UUD 1945 juga telah menjadikan partai politik (parpol) menjadi oligarki tunggal kekuasaan. Dengan membubarkan MPR sebagai lembaga tertinggi negara yang berasal dari perwakilan komponen utama bangsa Indonesia, seperti utusan daerah dan utusan golongan.

Ditambah lagi sistem presidensial pada pemerintahan dipadukan dengan pemilihan secara langsung presiden oleh rakyat, menjadikan peluang terbukanya ‘perselingkuhan’ politik antara politisi partai politik dengan pemerintah untuk menjadi penguasa (state of power) yang totaliter.

Kayaknya sekilas hal ini sederhana, tetapi hal inilah yang sejatinya telah merubah anatomi negara Indonesia secara fundamental. Dari negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan nilai spritualitas KeTuhanan Yang Maha Esa, menjadi sebuah negara kekuasaan politik.

Negara yang seharusnya berdasar hukum, tunduk kepada kepentingan politik. Rezim partai politik dengan pola pilihan langsung inilah yang kemudian bermuara menjadi pintu masuk kapitalisme untuk mencengkram bangsa Indonesia sedemikian dalam.

Pemerintah hari ini seakan sudah dibajak oleh sebuah kekuatan ‘invisible hand of power’, untuk melaksanakan agenda-agenda tertentu yang jauh sekali dari kepentingan rakyat.

Hutang yang menggunung, di mana sebentar lagi jatuh tempo dan entah bagaimana membayarnya. Impor barang yang gila-gilaan yang akhirnya membunuh produksi lokal. Subsidi dicabut, pajak dinaikkan, harga listrik, sembako, air, semua naik tak terkendali. Bahkan, hanya untuk maskerpun negara ini tak mampu kendalikan harganya.

Korupsi semakin menjadi-jadi semakin parah. Ketika kita kekurangan dana untuk program kesejahteraan, para elit yang teraviliasi dengan kekuasaan dengan mudah menghamburkan uang negara puluhan triliun rupiah dari kasus ansuransi Jiwasraya, Bumiputera, dan Asabri.

BUMN yang seharusnya menjadi mesin pencari uang buat negara, hari ini tergadai dan terancam di ‘take over’ China seperti Garuda. Sedangkan infrastruktur yang menggunakan uang dari hutang, hampir sebahagian mangkrak, merugi, dan juga terancam menjadi monumen mati seperti proyek kereta cepat bandung-Jakarta.

Begitu juga dalam hal kekayaan alam. Dengan mudahnya kita berikan peluang kepada asing untuk menghisap sepuasnya seperti di Morowali, NTB, dan Papua. Fasilitas pelabuhan, bandara dan jalan tol yang menyangkut hajat hidup orang banyak juga dikelola asing.

Sumber pembangkit listrik dalam supply energi nasional, juga lebih separo milik swasta asing. Ini sudah sangat keterlaluan. Memberikan titik objek vital ketahanan negara kepada asing-aseng. Ini sama saja menyerahkan leher dan ulu hati negara kepada orang luar.

Penegakan hukum juga bertambah parah. Sangat diskriminatif dan sewenang-wenang. Bagi yang pro-penguasa dilindungi dan dimanja. Bagi yang kritis dan peduli pada masyarakat diintimidasi menggunakan kekuasaan aparat. Yang kecil ditindas, yang besar bisa berbuat bebas. Ini belum lagi usai, datang lagi usulan RUU Omnibus Law. Dimana secara kolektif RUU ini membuldozer semua sendi perlindungan hak dan kedaulatan negara, yang selama inipun sudah sekarat terkikis azas kepentingan kapitalis dan penguasa. Kalau RUU Omnibus Law ini sempat disahkan, secara total dari segi hukum positif Indonesia sudah ibarat kembali ke zaman VOC lama. Indonesia memasuki era neo-kolonialisasi baru yang sporadis. Era neo-kolonialisasi yang dilakukan oleh kebodohan anak bangsanya sendiri. Menjajah bangsanya sendiri demi asing-aseng.

Secara budaya, para generasi muda lebih tahu K-Pop dari pada budayanya sendiri. Gaya hidup hedonisme, matrealisme, mengepung anak muda kita. Belum lagi narkoba, kehidupan free sex, dan LGBT yang juga semakin meraja lela. Hampir tiap hari generasi muda kita ada yang tewas karena narkoba. Hamil di luar nikah kemudian aborsi, candu game online. Dan banyak lagi fitur-fitur bertopeng gaya hidup moderen, tetapi sebenarnya merusak tatanan sosial budaya sejatinya generasi penerus bangsa.

Terakhir baru tentang ideologi agama yang saat ini juga dengan semena-mena diacak-acak oleh mereka para pembenci agama. Hanya sejak rezim ini berkuasa, kita merasakan ketidak nyamanan dalam harmonisasi agama. Dimana negara (kelompok penguasa) ingin mendikte tata cara beragama, bahkan memperlakukan agama seolah menjadi ancaman dan musuh negara. Membenturkan agama dengan negara menggunakan alibi Pancasila.

Hampir semua lini kerusakan terjadi terhadap bangsa ini. Anehnya, para pejabat dinegeri ini seolah menganggap remeh dan tidak peduli. Mereka asyik dengan mainan proyek serta nikmatnya fasilitas kekuasaan. Bagi mereka, seolah tak terjadi apa-apa alias baik baik saja. Mengaku Pancasila dan demokratis, tetapi ketika dikritik pada blingsatan dan gunakan kekuasaan secara sewenang-wenang untuk membungkam kebenaran.

Dengan kejadian musibah corona ini, ketika dunia diambang krisis khususnya China, sudah saatnya kita segera merenung dan persiapkan diri. Apabila China runtuh seperti Uni Soviet di tahun 1990-an, bagaimana dengan Indonesia?

Karena ketergantungan Indonesia ini terhadap China sudah sangat parah. Indonesia tidak lebih bagaikan negara outsourchingnya China. Dipermukaan memang seolah China baik dengan memberikan dengan mudah pinjaman uang pada Indonesia plus mega proyek mercusuarnya.

Nah dengan musibah corona ini, tentu akan menjadi hantaman keras bagi China dalam hal ekonomi. Dimana dampaknya juga pasti akan berpengaruh besar terhadap Indonesia. Untuk itu perlu kajian dan analisis, hal apa yang harus Indonesia lakukan ke depan? Berikut analisis dan kajian yang coba penulis jelaskan secara sederhana.

Pertama, dalam kondisi kesemrawutan ini. Sebelum kita menyiapkan bagaimana langkah strategis antisipasi ke depan. kita harus bisa menyimpulkan terlebih dahulu. Apa ancaman terbesar dan musuh terbesar bangsa ini sebenarnya. Siapa musuh terbesar dan utama bangsa Indonesia ini sebenarnya. Tidak mungkin kita bertempur, tapi kita tidak tahu siap musuh kita? Kekuatan apa yang sedang kita hadapi? Dan kita wajib mengenali siapa musuh bangsa Indonesia itu?

Kedua, baru menyiapkan langkah antisipasi serta formulasi ampuh untuk ke luar dari ancaman krisis dan resesi yang sudah di depan mata ini?

Jawabannya adalah; Pertama, musuh besar bangsa Indonesia hari ini itu adalah kolaborasi dari kekuatan global dengan komprador dalam negeri, yang berasal dari pada para opportunis (pengkhianat) dalam negeri. Siapa kekuatan global itu? Yaitu ada dua kekuatan global dunia yang keduanya saling bernafsu dan berlomba menjajah Indonesia dari dulu. Kekuatan pertama adalah kelompok ‘the new world order’ yaitu terdiri dari kelompok negara kapitalis barat berserta kelompok elit orang kaya dunia (baik secara company or state). Kekuatan kedua adalah China komunis yang sedang bangkit menjadi adi kuasa baru dunia.

Dua kekuatan global inilah yang mengobok-obok Indonesia untuk menghisap sebanyak-banyaknya kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah. Tak terhitung jumlah kekayaan alam bangsa Indonesia yang mereka sedot ke negaranya masing-masing.

Mulai dari tambang emas, nikel, batu bara, biji besi, migas, kayu, perikanan, perkebunan, entah apalagi triliunan dolar setiap tahunnya mengalir deras ke negara luar. Indonesia hanya dapat remah-remah saja, itupun dibagi-bagi oleh pejabat koruptor dalam negeri.

Dua kekuatan global ini menggunakan tangan-tangan atau antek antek dalam negeri, sebagai agen pelaksana di lapangan. Para anak bangsa yang mereka sogok, mereka didik, mereka kader, mereka modali untuk jadi pejabat atau penguasa yang kemudian bekerja melayani kepentingan dua kekuatan global ini.

Untuk mengaburkan itu semua, mereka rancanglah berbagai macam skenario kegaduhan, adu domba, propaganda, yang menyibukkan rakyat dengan hal-hal sepele tetapi menguras energi rakyat. Agar rakyat Indonesia sibuk dalam ruang gelap pertengkaran sesama anak bangsa, saling cakar, dan saling menghabisi. Energi negatif kegaduhan ini sengaja dipelihara agar rakyat lengah dan kehilangan momentum energi positif, untuk berpikir positif bagi kemajuan negaranya. Semua sibuk dalam adegan cebong dan kampret. Kadrun dan kodrun. Sedangkan di satu sisi, dua kekuatan global ini juga sibuk membangun istana di negaranya masing-masing. Mereka berpesta pora di atas kebodohan bangsa Indonesia.

Musuh besar ini yang harus bangsa Indonesia kenali dan ketahui. Jadi musuh bangsa Indonesia itu bukan radikalisme, bukan agama, bukan cebong dan kampret, tetapi adalah kolaborasi kekuatan global dengan antek-antek dalam negerinya, yang sebahagian besar saat ini menduduki posisi strategis ditampuk kekuasaan pemerintahan. Jadi, masyarakat Indonesia harus cepat sadar untuk tidak mudah diprovokasi dan diadu domba sesama anak bangsa. Yang tujuanya melemahkan dan menghancurkan kita dari dalam.

Dengan musibah global virus corona ini, sebenarnya inilah saat yang paling tepat bangsa Indonesia berbenah diri. Di saat para negara penjajah itu sibuk dengan virus corona khususnya China, inilah saat yang tepat Indonesia melakukan rekonsoliasi dan konsolidasi secara nasional.

Ketika impor barang anjlok dari China, inilah saatnya Indonesia menggenjot usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan industri lokalnya berproduksi. Ini juga saat yang tepat Indonesia evaluasi seluruh kontrak dan kerja sama investasi dengan semua negara. Mana yang merugikan, langsung dihentikan.

Ini juga saatnya Indonesia kembali membangun sektor fundamental ekonomi negara. Sektor real ekonomi Indonesia itu adalah UMKM. Potensi utama ekonomi Indonesia itu juga adalah daya konsumsi rakyatnya sendiri. Kalau rakyat Indonesia berbelanja membeli produk lokal bukan impor, inilah secara real yang menggerakkan roda perekonomian nasional.

Berbagai macam langkah antisipasi pasca corona melanda ini, haruslah taktis dan presisi. Melepaskan diri dari ketergantungan dan dikte bangsa asing adalah langkah utama, agar Indonesia dapat menghadapi ancaman krisis atau resesi ekonomi dunia yang akan datang. Stop belanja negara yang tidak perlu. Persiapkan hal yang paling mendasar bagi kebutuhan rakyat seperti sembako, cadangan BBM, dan pelayanan publik. Kalau perlu stop eksport gas dan tambang ke luar negeri sementara, sebagai komoditas inti barter negara seandainya nanti kebutuhan dasar masyarakat Indonesia kolaps tidak terpenuhi.

Jawaban kedua adalah, bangkitkan tiga elemen inti bangsa Indonesia yaitu; Keraton Nusantara, TNI, dan ummat Islam.

Michael Hudson dalam bukunya mengatakan; dalam konsepsi negara ‘nation state’ yang akan lebih dahulu maju adalah mereka (negara) yang paling dahulu menemukan jati diri (elemen inti) bangsanya, yang kemudian elemen inti inilah yang akan menjadi owner-user negara tersebut untuk maju.

Dasar argumentasi dari teori ini sederhana saja. Sebelum fase kehidupan bernegara dalam konsepsi ‘the new world order’ saat ini, dunia ini berbentuk imperium dan kekaisaran. Yaitu sebuah sistem pemerintahan berbasis monarki (kerajaan) dan kekhalifahan. Dimana basis fundamental pemerintahannya berdasarkan garis keturunan raja (dinasti) dan religion bagi Islam.

Hanya dua sistem imperium ini yang ratusan tahun menguasai bumi. Nah kenapa sistem imperium ini bisa begitu besar, luas dan perkasa, karena ada juga motivasi besar, motivasi ekspansi tanpa batas dari basis pemikiran ego monarki tadi dan basis ideologi religi.

Hal ini akan berbeda ketika berbentuk nation state. Tentu juga butuh sebuah motivasi berbeda. Meskipun konsepsi nation state ini memang dirancang melalui kolonialisasi pasca skenario perang dunia untuk membentuk tatanan baru dunia berupa negara bangsa. Agar sistem imperium ini runtuh berkeping-keping, menjadi kecil berbentuk negara bangsa (nation state) agar mudah diatur dan dikuasai.

Nah. apabila sebuah negara bangsa cepat berasimilasi menemukan elemen inti bangsanya, maka negara tersebut akan maju karena lebih dahulu menemukan jatu diri bangsanya, yang tentu secara murni dan konsekwen akan memajukan bangsanya.

Seperti contoh Amerika dengan jargon; white, north, and protestannya. Maka yang akan jadi penguasa Amerika tidak akan ke luar dari elemen inti ini. Dan Amerikapun maju. Begitu juga dengan Inggris. Dengan sistem Monarkhi Anglikan kristennya. Brunei dengan Monarkhi Islamnya. Malaysia dengan konsep bumiputeranya. Atau Israel dengan zionis Yahudinya.

Lau bagaimana dengan Indonesia? Menurut hipotesa penulis, Indonesia sebagai sebuah bangsa juga mempunyai tiga elemen inti yang kalau dipadukan serta disatukan akan menjadi sebuah kekuatan luar biasa. Apakah tiga elemen intu itu; Kerajaan Nusantara, TNI, dan Ummat Islam. Bagaimana dasar argumentasinya, berikut akan kembali kita bahas bersama.

Pesawat Dakota RI-001 ini, sumbangan dari raja-raja dan rakyat Aceh.

1. Kerajaan Nusantara

Fakta sejarah membuktikan Indonesia itu lahir bukan dari sebuah penaklukan antar bangsa. Indonesia itu lahir bukan dari hadiah bangsa penjajah. Tetapi, Indonesia itu lahir dari mandat kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara yang kemudian berjuang bersama melawan penjajah Belanda dan menproklamirkan lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia.

Jadi, secara akar kultural bangsa Indonesia itu adalah berasal dari kumpulan kerajaan-kerajaan yang hidup di nusantara. Makanya, keberadaan kerajaan nusantara berserta hak adat dan hak asal-usulnya dijamin oleh konstitusi kita UUD 1945 pasal 18 (ayat) 1 sampai 4.

Artinya, kalau kita berbicara apakah entitas asli bangsa Indonesia itu adalah kerajaan nusantara ini. Yang telah merelakan kekuasaannya, kedaulatan wilayahnya, untuk bersatu dijadikan satu negara. Bahkan para raja nusantara ini yang juga ikut menyumbangkan harta kekayaannya utk memodali kemerdekaan bangsa ini.

Untuk itu pulalah unsur kedaerahan di bawah naungan raja nusantara ini dalam versi UUD 1945 yang asli masuk dalam kelembagaan MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Namun, sayang saat ini sudah dihapuskan melalui amandemen.

Makanya ketika beberapa bulan yang lalu ketika kita diributkan oleh isu keraton sejagad atau sunda empire, penulis bertanya-tanya, modus dan motif apa di balik ini semua? Dan penulis menganalisa, ada upaya halus secara sistematis untuk mendegradasi pamor dan wibawa kerajaan nusantara ini ke dalam bentuk dagelan dan permainan. Padahal, keberadaan kerajaan nusantara ini konstitusional dan strategis kalau kita berbicara kedaulatan bangsa. Hak sebagai pribumi secara de facto. Pribumi asli Indonesia meskipun sudah dihapus untuk syarat jadi Presiden di Indonesia.

Dan meski diakui, kultur budaya nusantara ini masih hidup dan berjalan kuat di beberapa tempat di daerah sampai sekarang.

2. Tentara Nasional Indonesia (TNI)

Jargon TNI dari rakyat dan untuk rakyat. Bersama rakyat TNI kuat, adalah jargon yang penuh makna filosofis yang dalam kehidupan bernegara kita hari ini. Jargon ini mengisyaratkan, bahwasanya tidak ada batas antara TNI dengan rakyat. Karena TNI lahir dari rahim rakyat. Dan jargon ini juga menjadi dasar utama sistem pertahanan negara kita yaitu; Sishankamrata (Sistem Pertahanan Rakyat Semesta).

Kenapa TNI penulis jadikan elemen kedua. Karena, TNI adalah alat pertahanan negara. TNi Adalah tulang punggung negara. Dan TNI lah yang telah teruji loyalitasnya, patriotismenya, nasionalismenya, kesetiaannya, dan dedikasinya buat bangsa dan negara ini.

Ketika terjadi pergolakan dan pemberontakan PKI, TNI tampil sebagai penyelamat bangsa. Ketika terjadi bencana alam, TNI hadir di depan tanpa lelah. Begitu juga terjadi demo dan anarkisme aparat hukum kepada demonstran, TNI hadir menjadi penengah dan pelindung rakyat.

Hal ini juga dikuatkan oleh survei nasional, bahwasanya TNI adalah institusi pemerintahan terbaik dan paling tinggi dipercaya masyarakat Indonesia.

Walaupun ketika reformasi bergulir TNI menjadi sasaran fitnah dan bulan-bulanan media asing menjelekkan TNI dengan isu HAM. Hari ini kita baru sadar, bahwasnya itu semua hanyalah propaganda asing yang ingin membungkam dan melemahkan TNI. Skenario ini berhasil melempar TNI ke titik terendah melalui UU nomor 34 tahun 2004. Secara regulasi, jadilah TNI saat sekarang ini bagaikan macan yang kaki tangannya terikat oleh slogan supremasi sipil. Jadilah TNI saat ini di bawah kekuasaan politik. Bahkan, posisi yuridis TNI jauh di bawah Polisi. Meskipun dipoles dengan bahasa manis sinergitas TNI-Polri.

Meskipun begitu, apakah TNI marah? Apakah TNI kurang loyalitasnya? Ternyata tidak. TNI tetap memberikan dharma bakti terbaiknya buat negara. Walaupun sudah dipreteli kekuatannya sedemikian rupa. Atas nama politik negara, TNI tetap loyal dan setia.

Lalu apakah semuanya menjadi baik? Disinilah permasalahnnya. Sejak TNI dikerangkeng oleh regulasi baru ala reformasi ini, justru membuka seluas-luasnya pintu kepada musuh abadi TNI yaitu para anak PKI.

Reformasi menjadi surga bagi para anak PKI untuk bangkit kembali. Yang berkolaborasi dengan kekuatan global yang sudah kita bahas bersama di atas. Khususnya komunis China.

Reformasi adalah senjata ampuh melemahkan TNI, sehingga TNI tidak maksimal lagi menjalankan fungsi teritorialnya dalam menangkal penyebaran, agitasi, paham komunis secara budaya.

Apalagi kondisi saat ini. Secara kultur budaya, paham komunis sudah membudaya dalam budaya politik dan pemerintahan kita. Inilah yang disebut dengan perang asimetris. Yaitu perang yang tidak tampak berupa perang budaya, perang ideologi dan ekonomi.

Jadi wajar saat ini bangsa kita sudah kembali dikuasai komunis. Karena 20 tahun pasca reformasi adalah waktu yang cukup lama bagi mereka mencuci otak, pola pikir masyarakat dan politisi kita untuk berprilaku komunis. Kehidupan bernegara bangsa kita hari ini bagaikan surga bagi budaya komunis. Yaitu; anti agama, matrealistis, hedonis, jelek-menjelekkan, orang baik dan tokoh idealis dibuat jahat, yang asli penjahat disulap jadi malaikat, jago fitnah, jago agitasi politik serta adu domba, dan hobby bunuh karakter lawan politik yang tidak sejalan, suka hura-hura, jauh dari nilai spritual, otoriter, mau menang sendiri.

Karena faksi terdepan para ideolog dan anak PKI gaya baru ini, maka institusi yang paling kompeten bisa menghadapi mereka itu adalah TNI.

3. Umat Islam

Kenapa ummat Islam? Jawabannya simpel dan sederhana. Karena Islam adalah mayoritas di negeri ini. Suka tidak suka, terima tidak terima ummat Islam lah yang berperan utama memerdekan bangsa ini. Dan secara sosio kultural, Islam juga sudah hidup menjadi agama dan budaya kerajaan-kerajaan yang mendiami nusantara ini sebelum Indonesia ada.

Jadi, apapun yang terjadi terhadap bangsa ini ummat Islam lah yang paling merasakan dampaknya. Kalau negara ini miskin, ummat Islam yang paling banyak jadi korbannya. Apabila negara ini kacau, perang, tertimpa bencana, juga ummat Islam yang paling banyak jadi korbannya.

Apakah ini adil? Sangat adil kalau kita memahami keadilan itu proporsional (seimbang) bukan merata. Selama ini, persepsi kita direcoki dengan propaganda bahasa keadilan yang merata. Karena negara ini mayoritas Islam. Coba kalau bukan Islam?

Dalam asumsi penulis, bahasa toleransi dalam konteks Indonesia hanya sebuah agitasi dalam upaya melemahkan hegemoni dan dominasi umat Islam. Agar umat Islam terkungkung dengan stigma ini. Lalu kemudian menjadikan umat Islam Indonesia inferior. Padahal, sesungguhnya yang jadi korban intoleransi dan diskriminasi itu adalah Islam.

Ketika Islam mayoritas akan disudutkan dan dikurung dengan istilah intoleransi agar terbungkam tak berkutik. Tetapi, ketika Islam minoritas seperti di Wamena Papua, Islam dituduh radikal dan dihabisi.

Dengan kondisi inilah, penulis menjadikan ummat Islam sebagai salah satu elemen inti kebangkitan bangsa ini. Kalau umat Islam bersatu di Indonesia, niscaya tak akan ada kekuatan yang bisa mengalahkannya tanpa seizin Allah.

Permasalahannya adalah; sedari awal sejak kemerdekaan, umat Islam Indonesia sulit bersatu. Ada sekat kuat yang luar biasa membatasi ego lintas aliran, mahzab, dan harokah (manhaj) Islam di Indonesia yang seharusnya tidak terjadi. Umat Islam terpecah belah dan terjebak ego kelompok aliran. Semua kelompok merasa diri yang paling terbaik.

Hal ini bisa terjadi natural, tetapi ada juga faktor akibat infiltrasi kekuatan luar yang berkepentingan untuk memelihara ‘perpecahan’ ini agar abadi.

Caranya, bisa saja melalui infiltrasi doktrin ajaran, infiltrasi tokoh yang sebenarnya adalah ‘agen’ inteligent atau juga informan. Atau bisa juga melalui sogokan uang bertopeng bantuanisasi kepada kelompok agama tertentu.

Hal inilah yang menjadi tantangan utama ummat Islam Indonesia. Apabila, sekat perbedaan dan ego kelompok ini bisa ditiadakan? Insya Allah akan melahirkan sebuah kekuatan sosial politik yang luar biasa bagi masa depan umat Islam Indonesia. Karna secara logis faktual, tak ada alasan umat Islam Indonesia menjadi inferior dan hanya jadi korban diskriminatif serta penonton di negerinya sendiri.

Caranya bagaimana? Tidak ada selain masing-masing kelompok luruskan niat, dan laksanakan Islam secara kaffah (menyeluruh). Yaitu implementasi perjuangan Islam yang real untuk menegakkan kalimatullah. Bukan untuk kepentingan kantong pribadi, syahwat jabatan, atau juga fasilitas dunia lainnya.

Untuk itulah butuh visi, orientasi, misi yang sama dari umat Islam. Sebanyak 88 persen populasi umat Islam di Indonesia adalah aset luar biasa, baik secara politik dan ekonomi. Kita jangan mudah terkecoh dengan tipuan halusinasi dan propaganda musuh Islam, untuk mengadu domba antar sesama dan menyibukkan umat Islam dengan hal yang sepele. Agar umat Islam lupa/ lengah untuk terus melakukan konsolidasi umat.

Gelora mujahid 212 adalah bukti noktah kecil dari sebuah implementasi kekuatan Islam Indonesia. Hal seperti ini mesti dirawat, dijaga, dielaborasi merubah sebuah gerombolan menjadi gerakan kolektivitas keumatan tanpa melihat mahzab dan aliran keagamaan. Gerakan 212 ini harus tetap murni menjadi kekuatan konsolidasi umat.

Tinggal ke depan bagaimana para mujahid dan aktivis 212 ini berjibaku masuk, bersosialisasi untuk merebut posisi strategis keumatan baik di pemerintahan, ormas, kelembagaan, partai politik, agar semangat, dan gelora kebangkitan ini terdistribusi masuk menyebar ke setiap level sendi kehidupan bangsa Indonesia. Agar spirit 212 ini mewarnai setiap detak kehidupan bernegara bangsa ini. Bagaimanapun caranya. Yang penting satu komando, satu fikrah, satu gerakan, satu orientasi, satu nilai, dan satu cita-cita kebangsaan.

KESIMPULAN

Dari paparan di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:

(1). Terlepas dari virus corona dan ancaman resesi ekonomi dunia, kondisi saat ini adalah momentum yang paling tepat bagi tiga element nasional di atas untuk melakukan konsolidasi nasional. Yaitu; Raja Nusantara, TNI, dan Umat Islam.

(2). Musuh utama bangsa Indonesia saat ini sudah jelas, yaitu; Kolaborasi antara kekuatan global (komunis China-group the new world order) dengan anak bangsa sendiri, para pengkhianat gabungan kelompok ideologis (anak PKI, penganut syiah, kelompok liberal, non muslim radikal) dengan kelompok opportunis (mafia dan pejabat/ tokoh korup). Dan mereka ini harus dilawan dan dihancurkan.

(3). Kondisi Indonesia saat ini sudah sangat parah. Indonesia kalah tanpa melakukan perang. Semua potensi, sumber daya nasional, aset vital, kekayaan alam, para pemimpin/ pejabat, semua saat ini sudah dikuasai asing. Indonesia saat ini sudah kembali “terjajah” di alam modern.

(4). Wabah virus corona yang melanda dunia, bisa kita jadikan momentum ibarat jatuhnya bom atom Nagasaki-Hiroshima di tahun 1945. Inilah saat dan momentum yang tepat bangsa Indonesia bangkit dan kembali merdeka.

(5). Hipotesa dan analisis tulisan di atas bisa kita buktikan bersama dengan cara; Apakah pemerintah hari ini memanfaatkan momentum saat ini sebagai kondolidasi nasioal untuk bangkit? Atau hanya tetap ‘membebek’ bagaikan kacung yang setia menjalankan agenda dan perintah asing-aseng, tanpa pedulikan nasib rakyat dan kedaulatan bangsa. Biar waktu yanng menjawabnya. Wallahu’alam.***

*) Catatan redaksi: Opini yang telah terbit, isi tanggung jawab penulis.