BERJUBELAN DAN ABAIKAN PHYSICAL DISTANCING: Warga mengantre dana bantuan di Kantor Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur, kemarin (21/5). Pemprov Jatim memberikan dana Rp 200 ribu per orang untuk 5 ribu warga yang terdampak Covid-19 di Kota Mojokerto. (SOFAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)

Keprisatu.com – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) belum mampu mengerem laju persebaran Covid-19. Bahkan, Kamis (21/5) Jawa Timur menjadi penyumbang terbanyak kasus positif korona di Indonesia. Padahal, beberapa daerah sudah menerapkan PSBB.

Menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, secara nasional terdapat penambahan pasien positif korona sebanyak 973 orang. Juru bicara pemerintah Achmad Yurianto mengatakan, tambahan kasus baru tersebut merupakan yang tertinggi selama dua bulan terakhir. Dari jumlah itu, kontribusi terbesar berasal dari Jatim.

Yakni, 502 orang pasien positif baru. Dengan demikian, secara total, Jatim memiliki 2.998 pasien positif. Setelah Jawa Timur, penyumbang terbanyak adalah Jawa Barat dengan penambahan 86 orang serta DKI Jakarta 65 orang.

Menurut Yuri, peningkatan tersebut disebabkan banyaknya kelompok rentan yang tertular dari orang sehat yang membawa virus korona (carrier). Carrier tersebut tidak sadar bahwa dirinya membawa virus. Sebab, kondisinya sehat. Karena itu, menjalankan protokol kesehatan adalah hal terpenting yang harus dilakukan. Mulai mencuci tangan dengan air mengalir, memakai masker, menjaga jarak interaksi, hingga menghindari kerumunan.

Menanggapi banyaknya peningkatan kasus, Humas PB IDI dr Abdul Halik Malik meminta pemerintah tidak melonggarkan PSBB. Sebab, PSBB bisa diandalkan untuk melandaikan kurva pandemi. Dia juga meminta agar pemerintah membedakan monitoring penanganan korona secara nasional dan per wilayah. Dengan begitu, fokus intervensi kebijakan akan lebih spesifik dan berdasar pada data akurat. ”Sekali lagi, strategi utama memutus rantai penularan wabah korona di samping deteksi kasus yang cepat adalah pengaturan mobilitas penduduk. Agar yang sehat tidak bertemu dengan yang sakit,” tuturnya.

Pertambahan pasien positif yang begitu tinggi membuat beberapa RS rujukan merasa kewalahan. Bahkan, di Surabaya, 20 RS rujukan tidak mampu lagi menampung pasien. Ruang perawatan untuk pasien korona sudah penuh. Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jatim Dodo Anondo mengatakan, hal itu tidak bisa dihindari. Sebab, pasien yang dirujuk terus bertambah. Meskipun beberapa RS sudah menambah kapasitas, tetap saja terus terisi. Misalnya, Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Universitas Airlangga (Unair). Di sana sudah ditambah 140 ruang khusus, namun tetap penuh. Begitu juga dengan RSUD dr Soetomo.

Dodo mengatakan, jika hal itu berlangsung terus, selain pasien, yang menjadi korban adalah para tenaga kesehatan (nakes). Sebab, beban kerja mereka terlampau berat. ”Jika dipaksakan terus, akhirnya nakes tidak bisa memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat,” ujarnya.

Memang pemerintah daerah sudah menambah ruang khusus. Di Surabaya, misalnya, Asrama Haji Sukolilo sekarang digunakan untuk pasien positif Covid-19 yang berstatus OTG. Pemprov Jatim juga menyediakan 300 bed di Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Manajemen dan Humaniora Kesehatan.

Namun, tidak berarti tempat itu akan bisa menampung banyak pasien baru dan membuat masyarakat terlena. Justru di situ letak bahayanya. Menurut Dodo, langkah paling efektif adalah membenahi perilaku masyarakat sendiri. Sebab, Covid-19 bukan penyakit yang bisa ditangani dengan cara biasa. Virus itu mudah tersebar sehingga butuh tempat isolasi khusus. ”Bukan penyakit biasa yang pasien bisa diletakkan di selasar RS jika ruangan penuh. Ini yang perlu ditekankan ke masyarakat,” ujar mantan direktur RSUD dr Soetomo itu.

RS di daerah lain di Jatim saat ini memang masih mampu menerima pasien. Namun, jumlahnya tidak banyak. ”Dari laporan delapan koordinator wilayah, masih bisa menerima jika hanya satu atau dua pasien,” katanya. Karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan daerah agar tidak merujuk pasien ke RS di Surabaya jika tidak mendesak betul. ”Selama bisa ditangani di daerah, maka di sana saja, tidak perlu dibawa ke Surabaya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Husada Utama (RSHU), Surabaya, dr Didi Dewanto SpOG mengatakan bahwa jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di RSHU telah mencapai 188 orang per kemarin (21/5). ”Ruang isolasi khusus kami sudah penuh. Pasien terus meningkat,” katanya. Didi menuturkan, dari total 188 pasien yang dirawat di RIK RSHU, 170 pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Sisanya masih menunggu hasil PCR swab. ”Ada 32 pasien Covid-19 yang kondisinya berat. Sisanya sedang dan ringan,” ujarnya.

Sumber: jawapos