Keprisatu.com – Tim gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kota Batam dibantu tim gabungan TNI, Polri dan Ditpam Badan Pengusahaan (BP) Batam tiba-tiba mendatangi kedai kopi Empang, Rabu (13/5/2020) sore.

Spontan sejumlah wartawan yang biasa ngopi sambil kirim berita online memanfaatjan wi-fi, membubarkan diri. “Waduh, kita biasa buat berita dan moto orang. Tiba-tiba tim gabungan datang main foto,” kata Hersem setelah tim gabungan bubar.

Tim yang turun dari truk, langsung menggeruduk tempat kasir. Sempat terjadi dialog dengan penjaga kedai kopi. “Bu, kenapa tak menyuruh pelanggan beli bungkus bawa pulang saja. Meja kursi harus dijarang-jarangkan,” kata seorang petugas.

Si ibu yang ditegur petugas tersebut, tak kalah sengit menjawab si petugas. “Saya selalu menyarankan beli bungkus bawa pulang Pak. Meja kursi sudah jarang-jarang, bapak bisa lihat sendirikan. Kami cari makan butuh gaji karyawan. Tolong yang adil, masa penjual kopi di tempat lain boleh duduk-duduk,” kata si Ibu.

Setelah puas memberikan arahan dan pengunjung bubar, petugas gabungan membubarkin diri melanjutkan patroli di tempat lain.

Sektor UMKM Pondasi Ekonomi

Pelaju ekonomi Batam, Wahyudi Kando mencermati fenomena razia tempat kuliner memberikan saran ke pemerintah agar tidak kaku. Sebab, ekonomi riil ada pada sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Menurutnya, lebih 70 persen pondasi ekonomi Indonesia ditopang sektor riil di UMKM. Pengalanam krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, justru yang tumbang pelaku ekonomi besar. Sedangkan sektor riil tetap survive

Saran saya terkait pandemik covid-19 ini, tetap saja buka sektor ekobomi riil UMKM. Namun diterapkan protokol kesehatan. Tempat duduk jarak 1 meter, ada sabun dan tempat cuci tangan, hand sanitizer, pengunjung pakai masker, dan lainnya.

“Kalau negara maju seperti Singapura, warganya tak boleh ke luar rumah. Tapi, kebutuhan hidupnya dipasok terjamin. Bisa nggak negara kita bikin seperti itu,” ujar Wahyudi. (*)