Maurizio Sarri tampak memberi instruksi kepada Davide Zappacosta pada pertandingan Chelsea vs Eintracht Frankfurt dalam semifinal Liga Europa di Stadion Stamford Bridge, 9 Mei 2019. (AFP/OLIVER GREENWOOD)

Keprisatu.com – Maurizio Sarri mengakui bahwa ia memiliki konflik dengan para pemain Chelsea saat melatih klub berjuluk The Blues itu pada musim 2018-2019. Sarri tercatat hanya satu musim menangani Chelsea.

Meski kariernya di Liga Inggris terbilang singkat, Sarri berhasil menorehkan catatan manis bersama Chelsea.

Ia sukses membawa The Blues menjuarai Liga Europa setelah mengalahkan Arsenal pada pertandingan final. Chelsea sukses menundukkan Arsenal pada laga final yang digelar di Olympic Stadium, Baku.

Eden Hazard menjadi bintang The Blues pada laga final dengan memborong dua gol. Sementara itu dua gol lainnya dipersembahkan oleh Olivier Giroud dan Pedro Rodriguez. Adapun, satu-satunya gol Arsenal dicetak oleh Alex Iwobi.
Meski mampu mempersembahkan satu trofi dan mengakhiri musim di peringkat tiga klasemen Premier League, Sarri tak menutupi bahwa ia memiliki hubungan buruk dengan para pemain Chelsea.

Konflik antara Sarri dan pemain Chelsea terlihat jelas saat ia bersitegang dengan kiper Kepa Arrizabalaga pada pertandingan final Carabao Cup atau Piala Liga Inggris. Situasi ruang ganti Chelsea di bawah komando Sarri juga memanas setelah The Blues kalah telak 0-6 dari Manchester City.

Sarri pun mengakui bahwa saat itu hubungannya dengan para pemain Chelsea terbilang sangat buruk. “Hubungan saya dengan para pemain Chelsea sangat bertentangan, tetapi ketika saya berkata kepada mereka bahwa saya akan pergi, banyak dari mereka yang menangis,” ungkap Sarri seperti dikutip dari Evening Standard. “Saya bukan tipe pelatih yang suka menepuk punggung pemain.

Saya lebih banyak berbicara tentang apa kesalahan mereka (di lapangan). Saya sedikit bicara tentang hal-hal baik yang mereka lakukan,” imbuh eks pelatih Napoli tersebut. Sarri juga tak mengelak bahwa hubungan buruk dengan para pemain itu berpengaruh besar terhadap kariernya di Chelsea.

“Saya pikir itu berdampak besar, tetapi kemudian mereka belajar menghargai saya apa adanya. Mereka bisa mengenali karakter saya,” tutur Sarri. Pengalaman buruk dengan ruang ganti Chelsea membuat Sarri kapok untuk kembali ke Inggris. Namun di lain sisi, pria yang kini membesut Juventus itu mengaku merindukan atmosfer Premier League.

“Saya tidak akan tinggal di sana lagi. Saya tidak bisa mengerti bagaimana orang-orang Italia yang melakukan itu (tinggal di Inggris),” ujar Sarri.
“Namun, dari sudut pandang sepak bola, itu merupakan sesuatu yang berbeda. Saya merindukan Premier League. Kompetisi di sana memiliki level teknik yang luar biasa, begitu juga dengan atmosfer pertandingannya,” pungkas Sarri.

Sumber: Kompas.com