Erupsi Gunung Merapi terlihat dari Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, pada Jumat (10/4). (Mohammad Ayudha/Antara)

Keprisatu.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Jogjakarta mewaspadai potensi ancaman bahaya Gunung Merapi berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava serta jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif. Hal itu karena semakin seringnya erupsi Gunung Merapi dalam beberapa waktu terakhir.

”Hari ini (Jumat 10/4) kembali terjadi erupsi di Gunung Merapi pada pukul 09.10 WIB. Erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 103 detik. Teramati tinggi kolom erupsi kurang lebih 3.000 meter dari puncak,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan seperti dilansir dari Antara di Sleman pada Jumat (10/4).

Menurut dia, saat terjadi erupsi Gunung Merapi, arah angin ke barat laut. ”Hasil pantauan TRC BPBD Sleman hingga saat ini di wilayah Kabupaten Sleman nihil terjadi hujan abu. Masyarakat tetap beraktivitas normal seperti biasa dan situasi kondusif terkendali,” kata Makwan.

Dia mengatakan, upaya yang dilakukan BPBD Sleman, di antaranya melakukan pantauan situasi kondisi wilayah pascaerupsi dan antisipasi abu vulkanik. ”Kami juga melakukan droping masker 1.000 buah di pos KSM untuk warga dan petugas/relawan di Kalitengah, Desa Glagaharjo, Cangkringan,” terang Makwan.

Makwan menjelaskan, potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif. Dia juga mengimbau masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.

”Area dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi agar tidak ada aktivitas manusia. Kami minta masyarakat untuk mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awan panas maupun letusan eksplosif,” ujar Makwan.

Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jogjakarta pada Jumat (10/4) mengalami erupsi dengan tinggi kolom mencapai 3.000 meter di atas puncak. Akun Twitter Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang dipantau di Jogjakarta menyebutkan, letusan Gunung Merapi yang terekam di seismogram pada pukul 09.10 WIB itu memiliki durasi 103 detik dengan amplitudo 75 milimeter (mm).

Erupsi itu merupakan erupsi kedua Gunung Merapi pada April 2020, yang pertama terjadi pada 2 April 2020 dengan tinggi kolom mencapai 3.000 meter berdurasi 345 detik serta memiliki amplitudo 78 mm. BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan jangan panik. Tingkat aktivitas waspada (level II).

Editor: Am
Sumber: Jawapos