Semarakkan Tradisi, Sambut Malam 7 Likuran

Sabtu, 17 Juni 2017 03:23 WIB
59x Featured Lingga Melayu Keprisatu

Lingga (Keprisatu.com) – Menjelang masuk 27 Ramadhan 1438 H, beberapa gerbang lampu hias perayaan malam 7 Likur sudah tampak berdiri disejumlah ruas jalan di Daik Lingga. Tradisi hiasan lampu malam 7 Likur yang setiap tahun dirayakan sejumlah masyarakat salah satunya di kota Daik dan sekitar sepertinya akan semarak.

Meski tidak adanya wacana diperlombakan setiap pintu gerbang oleh instansi Kebudayaan Lingga, namun antusias dan semangat budaya yang tinggi oleh masyarakat Daik dan sekitar, tradisi ini tetap lestari.

“Kita hanya ingin menyemarakkan saja. Karena sudah tradisi, sayang kalau dihilangkan hanya sekedar berharap pada pemerintah,” papar Ari, yang sedang membangun sebuah pintu gerbang di Kampung Cening, Daik Lingga, Sabtu (17/06).

Selain itu dana yang dibutuhkan tido sebuah gerbang lumayan banyak. Beragam bahan baku mulai dari bloti, triplek yang didesain bentuk ornamen, kertas dan plastik warna, serta lampu.

“Untuk pendanaan kita swadaya, selebihnya kita minta sumbangan masyarakat. Alhamdulillah masyarakat pun ingin berbagi dalam soal ini,” lanjut dia lagi.

Dibeberapa titik ruas jalan, pembangunan gerbang lampu tahap demi tahap sudah terbangun. Mulai dari pondasi awal hingga, ada yang sudah siap mendesain kaligrafi sebagai hiasan khattil gerbang.

“Sudah banyak kalau disekitar Daik, ada di Kampung Tanda, Cening, Budus, depan Masjid Sultan Lingga, Kampung Damnah, Kampung Pahang, Melukai dan sebagainya,” ujar dia.

Tradisi malam 7 Likur merupakan tradisi masyarakat melayu yang sudah turun temurun sudah membudaya. Pada malam puncak pelaksanaan malam 7 likur yaitu tepatnya pada malam 27 Ramadhan, setiap gerbang menyajikan beragam makanan khas yang disediakan secara gratis bagi masyarakat yang mau menikmati, singgah dan merasakan suasana malam pintu gerbang.

Perayaan ini, bukan sebatas simbol budaya bagi masyarakat melayu, tetapi lebih luas yakni dalam rangka menyambut datangnya malam seribu bulan atau malam Lailatul Qadar.

Lebih jauh berbagai makna tersimpan dalam pelaksanaan acara likuran, tidak hanya sebatas penyalaan lampu dan euphoria belaka tetapi tersirat berbagai makna dan kearifan lokal masyarakat melayu dalam memaknai datangnya malam Lailatul Qadar. (*)