Sudah "BHINEKA TUNGGAL IKA" kah Kita ?

Kamis, 1 Juni 2017 02:40 WIB
32x Featured Headline Nasional Opini Politik Suara-mahasiswa Keprisatu

Opini - Mengenai pancasila bukan hanya sekedar bacaan, tapi tentang ideologi. Kita dipersatukan dengan "Bhineka Tunggal Ika", tapi sila pertama saja (Ketuhanan yang maha Esa) tidak bisa dijalankan dengan baik.

"Lakum Diinukum wa Liya Diin" ~ (Bagimu agamamu, bagiku agamaku). Tapi kita sedang dihancurkan dari mulai ideologi atau sila yang pertama. Bagaimana sila selanjutnya akan berjalan dengan baik jika tidak bhinneka tunggal ika?

Pernahkan terfikir mengapa garuda berdiri tegak diatas rangkaian tulisan "BHINEKA TUNGGAL IKA"? Kenapa kelima sila adalah perut dari "GARUDA"? Sedang penopang utama agar sang lambang negara tegak saja tidak bisa terangkai sebagaimana mestinya.

Padahal sudah diteriakkan kata "JASMERAH" oleh sang proklamator. Dan benar menurut salah seorang rekan saya "Sejarah tidak untuk diakui, tapi untuk diketahui". Ketahuilah sejarah, tapi jangan diakui. Karna kepastiannya tidak bisa dinyatakan seutuhnya benar. Dan pengakuan akan menyebabkan suatu pertikaian. Pecahlah lagi sang penopang lambang negara.

Satu pertanyaan yang timbul, jika memang benar bahwa negara tanah surga ini dapat mengguncang dunia hanya dengan 10 orang pemuda saja, berarti sangat dapat dipastikan bahwa begitu susahnya membangun kata "Bhinneka Tunggal Ika" tersebut.

Apa pesan yang tersirat dari kata itu? Dari negara kepulauan yang begitu banyak perbedaan bahasa, adat, ras, suku, dan agama. Mengapa harus negara yang memiliki begitu banyak perbedaan ini, begitu kental dengan semboyan mempersatukan perbedaan?. Apakah sulit kita yang "INDONESIA" katanya ini, untuk bersatu?

Sedikit mengutip kata kata dari seorang demosntran, Soe Hok Gie, "Saya mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh dan pemuda, bangkit dan berkata stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apapun. Dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras buat anak-anak yang lapar di tiga benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun, Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan – Saya mimpi tentang dunia tadi, yang tak pernah akan datang."

Bahkan jeritan seorang tokoh revolusioner pada era revormasi itu saja sudah "MEWARISI" kita bahwa masih sangat jauh dari kata persatuan.

Ketahuilah tentang apa yang diwariskan, apa yang di titipkan, dan itulah SEJARAH. Dan teriakkan pula "JASMERAH", jangan dilupakan untuk diketahui dan bukan akui.

Bercerminlah, dan tanyakan "PANCASILAKAH ANDA, DAN INDONESIAKAH ANDA"? (***)