Maryam Ukir Sejarah Di Astaqa STQ Ke VII

Kamis, 23 Maret 2017 10:02 WIB
48x Featured Berita Lingga Melayu Pendidikan Keprisatu

Lingga, Keprisatu.com - Rasa senang, itulah yang dirasakan Maryam anak dari Rahmat dan Zahara warga suku laut desa Penaah. Sebab baru pertama kalinya seorang Maryam tampil membaca Al-Quran di astaka megah STQ Ke VII Kabupaten Lingga digelar di Daik Lingga.

Kendati tidak menjadi peserta lantunan ayat suci yang dibacakan Maryam pada malam ta'aruf cukup membuat kagum ribuan pasang mata yang melihat dan mendengarkan. Seakan menjadi penoreh sejarah, Maryam keturunan suku laut asli tampil dan baru pertama kali diperhelatan akbar tahunan ini. 

Ketika ditanya seusai tampil membaca surah Al-Baqharah ayat 21-25, Maryam mengaku senang dan ingin suatu saat tampil menjadi peserta. Gadis kecil berumur 10 tahun ini menuturkan sudah lama pandai mengaji. Berada diatas astaka megah dia mengaku tidak tegang walau baru pertama kalinya berhadapan dengan ribuan pasang mata. 

"Tak gugup, belajar ngaji dah lame same buk Kades," jawab Maryam beberapa waktu lalu.

Selain itu dia yang baru menduduki kelas 4 SD di desa Penaah juga bercita-cinta menjadi seorang bidan. 

Kepala desa Penaah Abang Marwan mengatakan mengenai ini sebelumnya dari bidang Kesra Setda Kabupaten Lingga menawarkan suku laut desa Penaah ikut serta pada pawai ta'aruf STQ. Namun hal tersebut tidak bisa dipenuhi lantaran terkendala masalah transportasi dan anggaran. Sebagai pertimbangan, ajuan desa untuk menampilkan Maryam pada malam ta'aruf akhirnya diterima pihak Kesra.

"Ini sebagai pertimbangan mereka juga, sebab kami dulu disuruh suku laut ikut pawai 50 orang. Tak bisa karena tidak ada anggaran transportasi," papar Marwan, Rabu (22/03).

Untuk itu, demi pengembangan tilawal Al-Quran di desa Penaah, saat ini pihaknya tengah berusaha mencari guru ngaji yang mampu mengajar tingkat lagu sebagaimana yang disampaikan Wakil Bupati Lingga, saat pembukaan STQ Ke VII.

"Kami lagi mecari guru, tapi ada tak yang mau tinggal dan menetap. Yang mau dan betul-betul ngajar. Jangan yang pegi balek. Kalau ada kita senang anggarkan dari ADD," ungkap dia.

Sementara Densi Dias, aktivis yang selama ini bergerak dalam pemberdayaan suku laut mengatakan turut sertanya Maryam membaca Al-Qur'an pada malam ta'aruf merupakan langkah awal sebagaimana mengangkat derajat hidup suku laut, membawa mereka berbaur dengan masyarakat umumnya. 

"Alhamdulillah dengan tampilnya Maryam dalam pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan Edo sebagai saritilawah nya, yang kedua-duanya merupakan anak asli suku laut dari Selat Kongki desa Pena’ah Kecamatan Senayang, ini membuktikan bahwa anak-anak suku laut dapat diperhitungkan," ungkap Densi bangga.

Menurutnya selama ini belum pernah suku laut ikut dan andil dalam acara akbar Kabupaten. Mengingat suku laut merupakan bagian dari masyarakat Kabupaten Lingga, dia berharap kedepan suku laut tidak lagi dikesampingkan. Sebab dia yakin banyak potensi dan bakat-bakat yang bisa digali dari generasi suku laut yang nanti jika diberdayakan bisa membawa nama baik Kabupaten Lingga.

"Kami ingin menunjukkan juga bahwa ada saudara kita, anak-anak kita dari suku laut yang punya bakat itu. Jadi jangan sampai mereka ini dikesampingkan terus. Mereka pun mungkin punya potensi juga," lanjut Densi.
 
Selain dari itu, kata Densi ini juga sebagai cara menarik minat anak-anak suku laut lainnya untuk bisa membaur, belajar dan mengembang potensi yang ada pada diri mereka. Tidak hanya Maryam saat ini, dia berharap kedepan muncul Maryam-Maryam yang lain dari suku laut. 

"Kami berencana dengan desa Penaah mau memanggil guru yang betul-betul guru ngaji, yang bisa mengajarkan mereka tartil, taj’wid dan yang belagu," ujarnga.

Dengan begitu pula dia berharap pemerintah Kabupaten Lingga, khususnya dinas maupun bidang-bidang terkait tidak lepas tangan dan pandang sebelah mata. Menurut Densi suku laut butuh perhatian dan pemberdayaan, terlebih bagi anak-anak sebagai generasi penerus sangat butuh perhatian yang serius.

Mereka, kata Densy mau dan tidak malu untuk bejalar. Jika dididik dengan benar dia yakin banyak anak-anak suku laut yang bisa beradaptasi dengan kemajuan.

"Bukan tidak mungkin nanti nya, mereka bisa ikut mengharumkan nama Kabupaten Lingga ke kancah Nasional dan Internasional. Asalkan Pemerintah benar-benar serius menanganinya, mempasilitasi mereka dalam belajar. Karena merekapun punya mimpi yang sama seperti anak-anak pada umumnya," tutp Densi. (***)