Sunat Mudim Cara Khitanan Orang Dulu

Rabu, 22 Maret 2017 00:48 WIB
77x Featured Berita Lingga Melayu Keprisatu

Lingga, Keprisatu.com - Beragam tradisi yang merupakan adat istiadat melayu Daik tempo dulu perlahan mulai diangkat. Diperhelatan pawai ta'aruf STQ Ke VII Kabupaten Lingga, Dinas Kebudayaan (Disbud) Lingga menapilkan tradisi khitanan atau sunat tempo dulu. 

Kepala Disbud Lingga, M Ishak mengatakan khitanan orang melayu dulu ini dikenal dengan nama Sunat Mudim. Gagasan ini diambil mengingat lajunya peradaban dan perkembangan zaman. Meski begitu hal tersebut tidak luput dari rekam jejak pihak Disbud Lingga yang selama ini bergerak dibidang pelestarian kebudayaan. 

Sekarang memang tradisi sunat mudim hilang digeser waktu. Meski tak bisa dipertahankan dengan kehadiran alat kesehatan yang cangih, aman dan nyaman, namun tentunya Disbud Lingga tidak ingin pengetahuan tentang sunat mudim juga turut hilang. 

Jika dilihat, proses sunatan sunat mudim banyak mengandung nilai-nilai religius. Perlatan kesehatan yang digunakan juga cukup sederhana yakni mengunakan gunting, jepitan penjahit, sebilah pisau tajam, pembungkus, obat, dan sepotong umbut pohong pisang yang digunakan sebagai pendingin, serta lingkaran rotan yang dibuat mirip angka 8 sebagai penyangga kedua kaki ketika sudah melakukan sunat. Gunanya sebagai pengaman bagi yang bersunat, terlebih ketika sedang dalam keadaan tidur.

"Kabupaten Lingga ini banyak peradaban-peradaban yang kaya dengan peradaban Islamnya. Kita juga tahu bahwa zaman Sultan Mahmud Riayat Syah, selain ahli dibidang budaya dan adat, juga ahli didalam bidang Islam," papar Ishak sesuai pawai ta'aruf, Senin (20/03).

Sejatinya memang Lingga merupakan bekas tamadun Kerajaan Lingga Riau. Berkaca kebelakang ini, pastinya banyak cerita sejarah yang terukir serta beragam peninggalan-peninggalan yang layak menjadi aset. Seperti mengangkat batang yang terendam, pihak Disbud juga bertekad keras mengangkat baragam adat, tingkah dan laku yang masih terkubur. 

"Dan itu harus kita angkat kembali. Salah satu nya adalah Sunat Mudim yang tadi ditampilkan oleh peserta pawai. Itulah cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu yang erat hubungannya dengan agama dan kebudayaan itu sendiri," lanjutnya.

Menurut Ishak, di Daik khususnya 10 tahun yang lalu sunat mudim masih berlangsung. Pesatnya kemajuan juga tidak bisa dihindari, perlahan perlakuan  tersebut mulai ditinggalkan.

"Karena sekarang teknologi kesehatan telah lebih maju, lebih aman, lebih nyaman, tentu hal ini sulit untuk kita pertahankan lagi. Tetapi cara nya itu, nilai kekeluargaannya itu dan do’a yang ada, itulah yang kita pertahankan," tutupnya. (***)