Pasca Kapal Warganya Dibakar, Kades Pasir Panjang Minta Penegasahan Wilayah

Rabu, 25 Januari 2017 11:32 WIB
65x Featured Headline Berita Karimun Lingga Keprisatu

Lingga (Keprisatu.com) - Sebuah kapal motor milik warga dusun Tukul desa Pasir Panjang, Kecamatan Senayang dibakar oleh masyarakat desa Tanjung Kelit. Hal tersebut terjadi sebab diduga kapal motor dengan muatan pukat trol beraktivitas di sekitar wilayah peraiaran desa Tanjung Kelit sudah meresahkan masyarakat, Senin (23/01) malam.

Berdasarkan informasi kapal motor berukuran lebih kurang 4 GT yang dikemudikan Jas dan kawannya warga Tukul diduga menjatuhkan pukat trol miliknya dilepas pantai perairan kawasan desa Tanjung Kelit. Oleh warga Tanjung Kelit Jas dan kawannya berserta kapal motor ditangkap sekitar jam 10.30 malam dan digiring ke depan dermaga Tanjung Kelit. Pada jam 12.30 malam kapal milik Jas dibakar oleh beberapa warga dan disaksikan seluruh masyarakat juga Kepala Desa Tanjung Kelit. 

Ketua BPD Tanjut Kelit, Abdul Rahman mengatakan adanya kegiatan pukat trol yang dilakukan warga Tukul kerap meresahkan warganya. Ia mengakui sudah beberapa kali diberi peringatkan namun masih juga melanggar. Kerena sudah marahnya masyarakat akhirnya kapal tersebut dibakar.

"Kapal dibakar didepan pelabuhan disaksikan seluruh masyarakat desa," kata dia ketika dimintai keterangan lewat telpon, Selasa (24/01).

Kejadian tersebut dibenarkan Kades Pasir Panjang, Ahadun. Dia  mengatakan baru mengetahui setelah dirinya berada di Daik Lingga, ibukota Kabupaten Lingga untuk menghadiri rapat. Dia mengakui kejadian serupa bukan yang pertama kalinya, bahkan pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya ini yang ketiga kali warganya mendapat perlakuan hakim sendiri oleh masyarakat desa Tanjung Kelit.

"Saya baru tahu tadi pagi. Ada dua orang dalam kapal, saat ditangkap warga  Tanjung Kelit," kata dia saat dijumpai di Kantor Bupati Lingga, Selasa (24/01).

Perlakukan hakim sendiri masyakarat Tanjung Kelit belum bisa diterima sepenuhnya warga Tukul. Didampingi Kades Pasir Panjang dan Camat Senayang, beberapa warga Tukul datang menemui Bupati Lingga. Alasannya untuk memperjelas batas wilayah antar kedua desa agar kejadian yang berlaku tidak terulang lagi. Dengan begitu memudahkan bagi warga tiap dua desa tersebut dalam mencari nafkah.

Dengan  membawa beberapa dokumen yakni Perda No 04 Tahun 2007 tentang pembentukan desa Tanjung Kelit yang dimekarkan dari desa Mamot dan Perda No 05 Tahun 2007 tentang pembentukan desa Batu Belubang yang dimekarkan dari desa Pasir Panjang serta sebuah dukumen bukti perjanjian antar dua desa tersebut mengenai batas wilayah melaut tertanggal 26 Maret 2015.

Menurut Ahadun, berdasarkan Perda No 05 Tahun 2007 wilayah desa Pasir Panjang mencakup seluruh pulau Bakung Besar, Bakung Kecil, Mabong dan beberapa pulau diatasnya, sedang di Perda No 04 Tahun 2017 Desa Tanjung Kelit mencakup Kampung Tanjung Kelit, Kampung Secawar, Kampung Pulau Manik, Kampung Pasir Putih, Kampung Linau, Kampung Mengkuang Besar dan beberapa lainnya ke bawah.

"Jika kita ikut Perda maka wilayah penangkapan yang dilakukan warga Tanjung Kelit masih wilayah kami. Namun jika diikut perjanjian sebelumnya antar desa penangkapan itu juga masih diwilayah kami. Mereka beranggapan beranggapan separuh pulau Bakung Besar itu milik Tanjung Kelit. Padahal batasnya ada sungai yang memisahkan," kata dia. 

Sejumlah warga Tukul juga menilai masyarakat desa Tanjung Kelit telah melanggar kesepakatan bersama antar dua desa. Dalam kesepakatan yang ditandatangani 26 Maret 2015 silam apabila kedapatan warga Tukul mengambil hasil laut melebihi batas kesepakatan atau masuk dalam wilayah desa Tanjung Kelit akan ditangkap dan dikenakan denda 50 juta. Dan apabila tidak memenuhi dalam waktu 3 hari setelah penangkapan kapal akan dimusnahkan.

"Dalam kesepakatan itu juga jelas mereka sudah melanggarnya, hanya hitungan jam setelah penangkapan kapal dibakar. Itu juga kalau dilihat secara jelasnya kapal ditangkap masih wilayah kami. Apalagi jika batasnya dibatasnya dihitungkan berdasarkan perda yang telah dikeluarkan," kata salah satu warga Tukul yang ikut hadir, di Kanfor Bupati Lingga.

Sementara, Jas yang merupakan korban penangkapan atas aksi masyarakat Tanjung Kelit mengatakan hal serupa, saat ditangkap posisi labuh kapalnya sedang berada di wilayah desanya. Diapun mengakui mendapat penganiayaan oleh sejumlah warga Tanjung Kelit dengan dihujani batu. Namun ketika ditanya untuk menuntut, dia memutus tidak mau merpanjangkan masalah dengan alasan semua telah diserahkan ke desa.

"Sebenarnya kami ditangkap masih dalam kawasan Tukul," kata dia penuh kesal dengan mata sebelah kanan membiru akibat lemparan batu.

Sejauh berita ini ditulis belum ada penyelesaian pasti antar masyarakat kedua desa. (Red/MK/arp)