Yusuf Laki-laki Renta Yang Masih Kuat Bekerja Sagu

Jumat, 23 Desember 2016 18:04 WIB
76x Featured Headline Berita Lingga Profil Keprisatu

Lingga, Keprisatu.com - Muhammad Yusuf (75), seorang lelaki renta namun masih kuat untuk terus bekerja sagu di usianya yang telah sepantasnya untuk istirahat di rumah ini.

Lelaki tua yang mendiami sebuah rumah di kampung Tanda, Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga ini hidup seorang diri menikmati masa-masa menjelang akhir hidupnya.

Menikmati siang, malam, panas serta dingin, lelaki tua ini hanya bisa tersenyum dikala mendapat sapaan ramah warga Daik Lingga.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, Yusuf harus mencari rezki sebagai pekerja sagu yang pekerjaannya bukanlah perkara mudah.

Dengan tubuh sedikit kurus yang kelihatan sudah agak membungkuk itu, pria yang akrab disapa pakngah Usop tersebut masih kuat bekerja sebagai penyalo (Penyalur) sagu di pabrik sagu kampung Seranggung.

Penyalur sagu disini bukanlah pekerjaan yang mudah seperti halnya distributor barang, ataupun mengantarkan sagu ke sejumlah toko serta warung. Akan tetapi, nyalo atau nyalur disini yakni memisahkan antara serampin dengan sagu yang nantinya akan diolah menjadi tepung.

"Dah lama tok kerja disini. Mungkin sudah lebih 10 tahun," ungkapnya disela-sela melakukan pekerjaan menyalo sagu, Jum'at (22/12).

Dikatakan kakek tua tersebut, hanya ini lah pekerjaan yang mampu dilakukannya di usia tua untuk menghidupi diri sendiri.

"Istri tok sudah lama pulang (Meninggal dunia). Jadi tok tinggal sendiri di rumah," imbuhnya sambil mengelap keringat yang bercucuran dikeningnya.

Bukanlah perkara mudah, di usia tua yang seharusnya dapat beristirahat dengan tenang di rumah ini, pakngah Usop harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan uang senilai Rp45 ribu per hari nya.

Hal itu dilakukannya untuk menghabiskan hari tua yang mungkin tidak tahu kapan akan berakhir itu.

"Satu hari itu upahnya Rp45 ribu. Biasa terima gajinya 15 hari sekali bayar. Alhamdulillah lah dapat untuk makan," cetusnya.

Pantauan dilapangan, ditemani rokok 87, air kopi, serta roti jagung, pakngah Usop terus semangat melakukan aktivitasnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan tersebut.