Dengan Modal Semangat, Sepasang Lansia Jualan Mainan Keliling

Rabu, 7 Desember 2016 18:37 WIB
28x Featured Headline Berita Lingga Profil Keprisatu

Lingga, Keprisatu.com - Pekerjaan memanglah menjadi tuntutan yang takkan pernah habis walau sudah lansia. Berbekal pengalaman bergadang, itulah yang dilakukan Idris (68) dan Zaleha (65), sepasang suami istri di desa Musai, Kecamatan Lingga, demi memenuhi kebutuhan hidup.

Saat dijumpai media, Indris mengaku kerap berkeliling di wilayah Lingga untuk berjualan pakaian dan mainan anak-ana. Tak jarang ia hadir saat permaian ada, baik wilayah desa tetangga maupun dipusat keramaian Tanjung Buton. Bersempena diadakan turnamen bola kaki di desanya Idris dan Zaleha turut berjualan.

"Biasanya setiap ada turnamen sepak bola, kami pasti buka jualan ini. Mau kerja lain sudah tidak kuat lagi, cuma bisa buat gini untuk makan," ungkapnya ketika ditemui di Musai, Rabu (07/12).

Untuk kapasitas barang dagangan ia katakan diperoleh dari anaknya ya g berada di Batam. Bukan layaknya, sistem kerjasama dengan agen, melainkan sejumlah barang dagangan tersebut pakai beli. 

sejumlah barang-barang tersebut didapatkan dari anaknya yang bekerja di kota Batam. Bahkan, ia mengaku sudah sering keliling sejumlah desa yang ada di Lingga, terutama ketika ada permainan rakyat seperti turnamen sepak bola, atau sebagainya.

"Modalnya dari anak, dia yang beli semua ini di Batam. Jadi kalau pakai beli, kalau tak habis kita yang punya," ujarnya.

Pengakuannya juga merasa terbantu dengan diadakan turnamen sepak bola di Musai. Sebab dia dan juga istri yang sudah renta tersebut tak lagi jauh-jauh berkeliling berjualan melainkan hanya membuka kedai disamping lapangan bola selama penyelenggaraan turnamen.   

Warung yang ia buka mulai pukul 13.00 wib dan tutup hingga usai pertandingan sekitar pukul 18.00 wib tersebut tak jarang dikunjungi anak-anak untuk membeli sejumlah mainan.

"Kedai ini buka dari jam 1 siang, sampai selesai pertandingan bola jam 6 nanti. Selagi kerjanya halal, kenapa tidak dikerjakan," cetusnya.

Pendapatan tidak lah begitu signifikan, tapi dengan gigih dan semangat ia katakan syukur. Sementara kata dia disebabkan dia warga Musai, tanah yang dijadikan kedai kecil selama turnamen berlangsung juga merupakan tanah dia, panitia hanya menetapkan Rp 300 ribu saja untuk omset desa dan turnamen.

"Dalam satu hari itu, kadang-kadang dapat lah Rp 100 ribu, kadang Rp 200 ribu. Ini bukanya sampai habis turnamen lah. Kedai ini juga kami sebagaimana juga membantu panitia. Itu cuma Rp 300 ribu sampai turnamen ini selesai," tutupnya