Seniman dan Budayawan Lokal Mengakui Minim Perhatian

Rabu, 16 November 2016 17:02 WIB
78x Featured Headline Berita Dunia-melayu Lingga Melayu Pemerintahan Pendidikan Sastra Keprisatu

Lingga, Keprisatu.com - Seniman dan budayawan lokal masih jauh dari perhatian seiring majunya Kabupaten Lingga ke usia 13 tahun. Pernyataan ini diakui, Murwanto Edem Derry, pelaku seni yang telah sejak lama membudayakan seni di Kabupaten Lingga.  

Kabupaten Lingga dengan gelar dan dikenal sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu yang bahkan melampaui batas negara tetangga. Ironisnya, pengakuan seniman serta budayawan yang mengangkat tradisi dan kesenian daerah yang berciri khas melayu  luput dari perhatian khusus pemerintah hingga terkesan berjalan ditempat saja.

Murwanto yang akrab disapa Edem, mengatakan sampai hari ini, mereka para pelaku seni baik budayawan - budayawan senior yang ada di Lingga sudah banyak bereksperimen dan berkarya membangkitkan gairah seni baik tradisi maupun kreasi. Namun, disamping mendesainkan seni dan budaya tersebut sedemikian rupa, mereka masih mengakui kesulitan arah bagaimana harus berbuat agar mengangkat nama Lingga dengan beragam keseniannya.  

Dia mengakui semua kegiatan baik berupa apa saja tak seharusnya dikemas dengan anggaran. Tetapi, menurutnya sebuah perhelatan atau pertunjukan pasti membutuhkan anggaran. Hal itulah yang dipandang, sebab campur tangan pemegang anggaran turut menentukan kemajuan.

"Hari ini orang ingin berkarya, kemana mereka harus promosi, di youtube banyak yang hebat-hebat, kabupaten kita ini sudah 13 tahun, bukan masa untuk ber eksperimen kalau untuk seni," ungkapnya, Rabu (16/11).

Dia katakan, sebenarnya kesenian dan budaya di Lingga sudah menjadi produk jadi seperti pada kesenian teater. Dia yang sudah berkiprah selama 16 tahun didunia teater mengatakan teater sudah menjadi milik Indonesia yang diakui sebagai warisan tak benda. Itu tandanya Melayu punya perjuangan. Sementara, sanggar-sanggar mulai tumbuh mengangkat seni dan budaya baik berupa kesenian musik dan tari jauh dari anggaran kebudayaan terlebih suasana di Pemkab kerap dilanda defisit. Padahal Membudayakan mereka adalah langkah meningkatkan kepopuleran Kabupaten Lingga dinusantara bahkan antar negara.

"Ada kisah yang tiada terbantah, sehingga melalui provinsi dipantau, mana yang berjalan seiring waktu, ternyata teater, makanya dibantu. Sementara, sanggar-sanggar yang bertumbuhan lainnya, seperti tari, musik, seni, mereka bukan tidak berkarya, cuma yang merespon untuk anggaran kebudayaan itu tidak banyak," jelasnya.

Selain itu, ia menuturkan mengenai kualitas seni di Kabupaten Lingga melihat  dari berbagai event musik maupun tari. Menurutnya Lingga sudah mempunyai nama, hanya saja perlu terus digesa agar nama tersebut terus diakui, sehingga, tidak lagi ada kata segan dan kaku jika tampil di perhelatan besar dengan arena panggung luas.

Sebagai seniman muda, perlakuannya terhadap seni tradisi, budaya dan lainnya adalah untuk menjaga dan melestarikan. Dengan begitu kalaupun ada seniman muda seperti dirinya, hal itu hanya hobi sebab jika tidak para seniman muda, maka siapa lagi yang akan berbuat. Belakangan memang banyak seniman muda yang meloncati keberuntungan diluar hanya sebatas mengangkat nama daerah lain. Hal ini memang cukup disayangkan. 

Untuk itu, pintanya seharusnya pemerintah tidak lagi memberikan dana pembinaan. Namun pemerintah harus membuat perhelatan pegelaran agar seniman - seniman ini merasa digunakan dalam berekspresi diatas panggung.

"Saya sebenarnya tidak berharap juga pemerintah memberi apresiasi. Tapi saya harapkan pemerintah memberi konstribusi melalui penyediaan dana atau sebagainya untuk berkarya," harapnya.

Bahkan, selama ini jaminan kesejahteraan bagi para seniman dan budayawan masih belum ada. "Hari ini, orang yang budayawan itu jarang dapat penghargaan. Hari ini, polisi ada pensiunnya, pegawai ada pensiunnya, budayawan mana, tidak ada. Tapi mereka berkarya terus menyenangi orang," tutupnya.