Jefry Rian Siska: Pemuda Lingga Yang Bertekad Melestarikan Musik Tradisional Melayu

Jumat, 1 April 2016 01:07 WIB
29x Profil

LINGGA, Keprisatu.com - Kisah perjalanan kesuksesan yang dicapai oleh sejumlah pemusik di belantika musik tentu saja berbeda-beda. Mereka tak hanya sekedar memiliki bakat memainkan beragam alat musik saja, tetapi bagaimana membangun karir tersebut dengan mengambil beragam peluang yang ada.

Jefri Rian Siska (25), pemuda kelahiran tahun 1992, berasal dari desa Sungai Pinang Kecamatan Lingga Timur, Kabupatan Lingga, Kepulauan Riau mampu berkarir didunia musik tradisi hanya bermodal sebuah hobi. Tidak ada sekolah seni formal tentang musik, terlebih musik tradisi yang ia pelajari. Kepiawaian bermain alat musik merupakan sebuah bakat yang ia dalami dengan belajar non formal. Keingintahuan yang tinggi dan usaha yang keras dibidang musik etnik ini menjadi pemicu semangat buat ia terus berkarir ditanah melayu. Kendati demikian, hal itu juga tak terlepas dari do'a dan dukungan orang tua.

"Yang jelas pertama itu adalah usaha dan hobi. Meskipun itu sukses juga tak akan lepas do'a dan dukungan orang tua dan orang-orang terdekat," ujar Rian.

Dia yang dianugrahi kesempatan bergabung di Sanggar Srindit Anjungan Riau dan mengiri perserta dari Riau dalam kompetisi D'Academy Indosiar, Jum'at (18/3) malam, mengatakan dengan kecintaan terhadap kesenian melayu membuat dirinya tak gentar untuk melangkah. Dia yakin dengan hal itu, akan membawa perubahan bukan hanya bagi dirinya namun sebagai pelopor semangat kaum muda untuk terus berkreasi dan mencintai tradisi melayu dalam aspek apapun dan mencoba menjadi penerus yang bertanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan melayu terkhusus dibidang musik.

"Karena kecintaan terhadap kesenian tradisi melayulah, hingga ada jalan untukk bergabung dengan seniman taman mini indonesia indah (TMII)," katanya.

Sebagai putra melayu Kabupaten Lingga, menurutnya dengan mencintai kesenian musik tradisi ini mununjukkan jati diri sebagai anak melayu. Tak terlepas dari identitas melayu, banyak anak muda yang saat ini mungkin sedang bimbang tentang keputusan menekuni dunia musik tradisi yang tampak berjalan begitu lambat. Namun semua itu hanya mitos dan sikap pesimisme yang harus dihilangkan. Dengan tekad untuk membangun karir profesional di dunia musik tradisi semua pemusik di bumi melayu mungkin bisa meraih itu. Mungkin tidak dengan jalan yang sama.

"Kite melayu kalau hanya sekedar bermusik, semua orang bisa bermusik. Namun bagaimana kita harus bermusik melayu dengan tujuan sebagai jati diri kita anak melayu Lingga sebagai identitas," tegasnya.

Walau baru menuju kesuksesan, dia yang saat ini tengah mempersiapkan program sarjana di Stisipol Raja Haji Tanjungpinang berniat ingin menjadi seorang seniman yang intelektual. Dia dan beberapa putra-putri Kabupaten Lingga telah membentuk kumunitas musik yang sangat populer di Kota Tanjungpinang dengan nama All Wahid Management. Disamping musik modern yang ditampilkan juga tak terlepas dari musik melayu yang kodratnya harus dilestarikan mengingat Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu. Keterlibatan dalam bermusik tradisi ini, hingga mencoba peruntungan diajang musik menemukannya dengan banyak kenalan pemusik tradisi ibukota Indonesia. Untuk itu, ia sangat menginginkan agar pemuda di Lingga terus menekuni tradisi, baik itu musik dan lainnya.

"Jika saat ini kia sudah menemukan panggilan dalam hidup di bidang musik, jangan pernah ragu untuk terus maju. Meski persaingannya begitu ketat dan tidak mudah, yakinkan diri bahwa berkarir di bidang musik adalah pilihan tepat dan akan membawa sukses," tutup Rian yang saat ini berada di Jakarta.